Jumat, 24 Mei 2019

Tugas ISBD Oktalina Sutrisno Putri

Oktalina Sutrisno Putri
Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan
NIM : 18031016
Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

BAB I LATAR BELAKANG ILMU BUDAYA DASAR
A. Pengertian IAD, ISD dan IBD
Istilah-istilah IAD (Ilmu Alamiah Dasar), ISD (Ilmu Sosial Dasar) dan IBD (Ilmu Budaya Dasar) sama sekali tak menunjukkan bahwa mata kuliah dengan nama-nama tersebut masing-masing memperkenalkan dasar dari ilmu-ilmu alamiah, ilmu-ilmu sosial, dan ilmu-ilmu budaya. Yang benar bahwa masing-masing istilah itu untuk membuka pagar-pagar yang membatasi disiplin-disiplin yang membentuk masing-masing kelompok ilmu. Di sini maksudnya, the scientific study of some aspect or segment of reality (bidang studi yang memiliki objek, sistem, dan metode tertentu). Sebagai contoh disiplin, misalnya sosiologi, fisika, dan kritik musik.
Biasanya disiplin-disiplin yang tergolong ke dalam IAD adalah fisika, kimia, astronomi, geologi, meteorologi, serta biologi. Lima yang terdahulu mewujudkan ilmu-ilmu fisika, sedang yang terakhir ilmu-ilmu biotis dengan rincian utama: zoologi, fitologi, dan fisiologi manusia. Adapun ISD meliputi dua kelompok utama yaitu, studi manusia dan masyarakat dan studi lembaga-lembaga sosial. Studi dan masyarakat terdiri atas psikologi, sosiologi, dan antropologi, sedangkan studi lembaga-lembaga sosial terdiri atas ekonomi dan politik.
IBD biasanya dibagi dalam tiga kelompok. Pertama seni (sastra, musik, seni rupa, seni tari, dan berpidato), sejarah agama dan filsafat. Penjelasan lanjutan mengenai beberapa disiplin yang masuk IBD adalah sebagai berikut:
Sejak manusia hidup dalam kondisi sederhana, seni menempatkan posisi yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah umat manusia juga menunjukkan bahwa di dalam seni terdapat beberapa ekspresi manusia yang menonjol, dalam pengertian atas eksistensinya sendiri. Sastra yang diajarkan di sekolah dan di perguruan tinggi melalui pendekatan kritik leterer, di dalamnya tercakup hakikat sastra, analisisnya, evaluasinya, dan tempatnya dalam kehidupan manusia. Adapun seni rupa dan musik acapkali sekadar diajarkan untuk keterampilan seni belaka. Jadi, belumlah sebagai pemberian bekal pemerkaya pemilikan budaya intelek bersama.
Sejarah yang diajarkan sebagai disiplin menelaah yang manusia dalam dimensi waktu mengutamakan telaah masa lampaunya. Manusia dilukiskan sebagai ciptaan Allah, makhluk pencipta budaya dan makhluk pencipta peradaban, mengajar sejarah bermaksud mengartikan isi pengalaman manusia di masa lampau serta kondisinya sekarang sebagaimana terdapat dalam berbagai kelompok kehidupan. Mahasiswa yang mempelajari sejarah diharapkan menemukan identitasnya sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat agama, sebagai warganegara dan warga umat manusia. Sehubungan dengan itu, sejarah kebudayaan haruslah lebih ditonjolkan dari pada sejarah politik dan sejarah ekonomi.
Retorika yang terbagi menjadi jenis lisan dan yang tertulis acapkali dipandang sebagai suatu keterampilan belaka. Akibatnya, yang dicapai melalui retorika tertulis hanyalah materi objektif atau mekanisme mengungkapkan berdasarkan tata bahasa melalui komposisi tertulis. Padahal tujuan yang sebenarnya dari retorika tertulis adalah melatih mahasiswa untuk menulis prosa dengam idiom yang baik, dalam gaya bahasa yang berlaku berdasarkan logika yang layak. Melalui banyak pelatihan di bawah bimbingan dosen yang cakap, retorika tertulis harus mampu memberikan keterampilan untuk meneruskan, berdalih, membuktikan dan mengimbau.
Dengan demikian, ditetapkan bahwa retorika yang sekadar diajarkan sebagai keterampilan, harus berbeda dengan retorika yang diberikan melalui sejarah sastra dan kritik sastra. Retorika tertulis sangat berhubungan dengan linguistik, sejarah bahasa, serta tata bahasa. Dalam mengajarkan retorika tertulis, mahasiswa diajak bergaul secara informal, khususnya bidang yang terkenal dengan sebutan logical fallacies atau logika semu.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berkomunikasi dengan sesamanya secara langsung sehingga membutuhkan retorika lisan. Ilmu Budaya Dasar jika memberikan retorika lisan haruslah menekankan pada praktek berpidato di muka umum, menurut gaya bahasa yang berlaku, berdasarkan struktur bahasa yang logis. Syarat-syarat keterampilan mengungkapkan pikiran secara lisan sama pentingnya dengan yang secara tertulis.
Perlu diketahui bahwa Ilmu Budaya Dasar (IBD) termasuk komponen MKU (Mata Kuliah Umum) yang tujuannya untuk merangsang mahasiswa dalam mengembangkan seluruh potensi manusiawinya dalam menjawab kenyataan-kenyataan kehidupan sosial budaya masyarakatnya, untuk membentuk sikap mental yang positif. Namun berbeda dengan mata kuliah agama, pancasila, dan kewiraan, yang merupakan program penunjang untuk pemahaman nilai-nilai masyarakat Indonesia, ISD-IBD lebih jauh daripada ketiga mata kuliah tersebut, yakni mengajak mahasiswa mempertanyakan atau mencari jawaban penerangan nilai-nilai yang ada untuk memecahkan masalah sosial. Pada hakikatnya seluruh mata kuliah yang tergabung dalam MKDU lebih menitikberatkan pada personal aspect daripada academic aspect. Kelompok mata kuliah ini merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Agama dan pancasila misalnya, menigkatkan moral dan ideologi. Kewiraan meningkatkan apresiasi security dengan pendekatan komprehensif integral. Sedangkan ilmu sosial dan budaya dasar menumbuhkan sikap kepekaan menuju prosperity. Peranan kelompok mata kuliah ini sangat besar sumbangannya terhadap pembentukan sarjana seutuhnya. Cita-cita masyarakat adil, makmur dan menciptakan manusia Indonesia seutuhnya dirumuskan secara operasional yang bertingkat dan berkelanjutan. Para cendekiawan termasuk di dalamnya para sarjana, merupakan sokoguru  yang memiliki sumber-sumber ide dalam struktur suatu negara yang sedang membangun. Sebagai sokoguru  jelaslah bahwa cendekiawan dan sarjana harus dibekali tidak hanya kemampuan yang sesuai dengan disiplin ilmunya tetapi juga dibekali sikap mental yang peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di lingkungannya.
Mempertanyakan untuk apakah ISD-IBD sama halnya dengan mempertanyakan tujuan pendidikan. Apabila jawabannya hanya sekadar untuk mencetak tenaga-tenaga ahli yang terampil, maka dengan mudah disimpulkan bahwa ISD-IBD tidak diperlukan. Namun demikian, apa yang tersurat dan tersirat dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) secara jelas menghendaki tujuan pendidikan yang meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, budi pekerti, kepribadian, dan semangat kebangsaan, sehingga menghasilkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Hal di atas menunjukkan bahwa pendidikan tidak semata-mata membentuk manusia yang ahli saja, tetapi juga berkepribadian dan berpandangan luas. Kalau kita lihat dengan saksama, maka program bidang pengetahuan keahlian yang menjadi tanggung jawab jurusan, departemen atau bagian tidaklah sama dengan hal yang sesungguhnya diartikan dengan pendidikan dalam fitrah yang sebenarnya, yaitu pengembangan kepribadian. Sebab kenyataannya pembentukan tenaga-tenaga ahli lebih cenderung memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan pada bidang pengetahuan keahlian yang bersangkutan saja, sehingga hubungan saling ketergantungan antara bidang-bidang pengetahuan yang bersama-sama merupakan suatu keseluruhan tidak begitu diperhatikan.
Akibat yang timbul seperti yang diuraikan di atas tidak saja berpengaruh terhadap bidang pendidikan itu sendiri, yaitu sekadar menghasilkan sarjana yang menjadi tukang, tetapi dampaknya terasa juga pada darma yang lain. Darma penelitian misalnya, kegiatan ini selalu meliputi persoalan-persoalan lingkungan atau kenyataan alamiah, hubungan dengan orang-orang lain, kepercayaan, pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma dan arti yang merupakan perwujudan.
B. Ilmu Budaya Dasar Sebagai Komponen Mata Kuliah Umum
Kita telah mengetahui bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata, material dan spiritual berdasarkan pancasila. Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia sebagai pusat interaksi kegiatan pembangunan spiritual maupun material, yaitu pembangunan yang melihat manusia sebagai makhluk budaya dan sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia serta menumbuhkan keseimbangan dan keserasian, yang berkepribadian utuh, memiliki moralitas dan integritas sosial yang tinggi dan menghasilkan manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka ilmu budaya dasar perlu dipelajari oleh setiap mahasiswa. Karena itu, IBD dimasukkan ke dalam salah satu mata kuliah umum, yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa di perguruan tinggi, yang bertujuan untuk membentuk manusia yang:
1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya, dan memiliki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.
2. Berjiwa pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan pengetahuan nilai-nilai pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasional dan kemanusiaan sebagai sarjana Indonesia.
3. Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berperan serta meningkatkan kualitasnya, maupun lingkungan alamiah, dan secara bersama-sama berperan serta dalam pelestariannya.
4. Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di dalam menyikapi permasalahan kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan keamanan.
Mardiatmodjo;B.S dalam Catatan Kecil tentang Humaniora,kompas, 31 Maret 1983 mengatakan, “Ilmu Budaya Dasar sebagai mata kuliah wajib di perguruan tinggi adalah terjemahan dari istilah basic humanities atau pendidikan humaniora. Humaniora dalam bahasa Latin berarti manusiawi. Humaniora ini menyajikan bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi”. Sehubungan dengan itu, dia juga menegaskan diperlukannya humaniora bagi pendidikan berarti menempatkan manusia di tengah-tengah proses pendidikan.
Adapun sumbangan humaniora kepada proses pendidikan menurutnya ada tiga, yaitu:
1. Menyatuderapkan pengembangan pikiran (rasio) dengan hati (rasa)
2. Memperkenalkan kepada anak didik nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan abadi
3. Mengerjasamakan pendidik dengan anak didik serta teori dengan praktek
Pertama, pengembangan akal manusia yang terpenting adalah optimalnya, bukan maksimalnya, yakni dengan mengarahkan potensi budi manusia kepada yang baik. Menjadikan manusia bijaksana harus dilengkapi dengan memanusiakan perilakunya. Kedua, melalui penguasaan bahasa yang benar dan pengenalan yang baik terhadap sastra seni dan sejarah, anak didik dibentuk untuk mengenal pola-pola nilai secara luas, sehingga ia mampu meneliti sikap dan perilakunya sendiri terhadap gejala-gejala sosial-ekonomi, politik dan budaya dalam masyarakat. Semua itu ditujukan dalam rangka mencari upaya untuk memperbaiki kepincangan sosial. Ketiga, berkaitan dengan metode humaniora yang mengutamakan kerjasama antara pendidikan dan anak didik dan kerjasama antara teori yang diajarkan dan prakteknya dalam kehidupan. Ini meliputi retorika tertulis dan retorika lisan. Retorika secara lisan ini menyangkut deklamasi, sandiwara, perdebatan, dan diskusi.
Telah kita maklumi bahwa tugas utama perguruan tinggi tidak sekadar mencetak orang-orang yang terampil dan ahli, tetapi lebih dari itu perguruan tinggi diharapkan mampu menampilkan manusia paripurna. Dengan demikian perguruan tinggi merupakan tempat bagi berkembangnya seluruh potensi kemampuan pribadi manusia. Selain itu, karena pendidikan tinggi tidak terlepas dari kerangka suatu masyarakat, maka secara umum hasil perguruan tinggi haruslah memenuhi harapan masyarakat untuk meningkatkan mutu kehidupan bersama. Untuk itu, kaum cendekiawan di perguruan tinggi diharapkan mampu membentuk sikap untuk mengabdi pada sesama demi harkat kemanusiaan.
Perguruan tinggi tidak sekadar tempat pengembangan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga sebagai pengembang kepribadian. Tugas utama perguruan tinggi adalah mengupayakan pembentukan kehidupan dan sikap mental yang didasari falsafah pengabdian ilmu pengetahuan untuk peningkatan harkat dan martabat manusia. Falsafah tersebut akan melandasi nilai mencari kebenaran, jujur, terbuka, dan objektif. Kehidupan dan sikap mental tersebut harus dibina, agar pengetahuan dan teknologi sebagai hasil kemampuan berpikir manusia tidak terlepas dari tujuan semula, yaitu meringankan kehidupan manusia.
Kurikulum formal mengupayakan mahasiswa untuk mengembangkan dirinya menjadi seorang yang cakap dan profesional dalam bidangnya. Karena tujuan perguruan tinggi adalah membentuk manusia yang paripurna, penunjang untuk itu agaknya diperlukan. Ilmu budaya dasar diberikan atas dasar tuntutan tersebut. Melalui pengajaran mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mengembangkan kehidupan kejiwaan yang mampu untuk memandang seluruh kenyataan yang dialami sebagai semat-mata masalah kemanusiaan. Karena ilmu budaya dasar adalah suatu sistem pendekatan (terhadap masalah-masalah budaya dan kemanusiaan), maka untuk pendekatan tersebut, dipergunakan dan dimanfaatkan beberapa pengetahuan lain. Pendekatan terhadap kenyataan tersebut sekaligus merupakan jembatan antara nilai-nilai yang diperoleh mahasiswa dari buku-buku dan ruang kuliah, dengan nilai-nilai yang hidup dalam kebudayaan lingkungan bangsanya sendiri.
Kepekaan dan apresiasi terhadap masalah kemanusiaan dan kebudayaan merupakan tujuan pengajaran IBD, dengan harapan hal tersebut akan membawa keluarga perguruan tinggi sebagai seorang yang lebih manusiawi dan halus dalam menghadapi diri dan lingkungannya. Dengan demikian, lingkungan kehidupan manusia yang merupakan berbagai kenyataan budaya sebagai perwujudan hakikat kemanusiaan merupakan tema pokok perkuliahan IBD.
Dari mata kuliah umum setiap mahasiswa diharapkan memiliki klasifikasi sebagai berikut:
1. Berjiwa pancasila, memiliki integritas kepribadian yang tinggi dan mengutamakan kepentingan nasional dan kemanusiaan
2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai ajaran agamanya, serta memiliki tenggang rasa dalam kehidupan beragama
3. Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral dalam mengahadapi masalah kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan maupun pertahanan dan keamanan
4. Memiliki wawasan kebudayaan yang luas tentang kehidupan bermasyarakat, secara bersama-sama mampu berperan dalam meningkatkan kualitas masyarakat dan lingkungannya serta pelestarian lingkungannya
5. Memiliki pengetahuan dasar, sehingga mampu berpikir interdisipliner dan mampu memahami pikiran para ahli dari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan memudahkan mereka berkomunikasi.
IBD termasuk ke dalam kelompok pengetahuan budaya (the humanities), tetapi tidak identik dengan pengetahuan budaya. IBD  mengkhusukan kajiannya pada masalah-masalah kemanusiaan dan budaya.
C. Tujuan Ilmu Budaya Dasar
Tujuan umum ilmu dudaya dasar ialah mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan berpikirnya, baik yang menyangkut diri sendiri atau yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya.
Untuk menjangkau tujuan tersebut , maka ilmu budaya dasar diharapkan dapat:
1. Menajamkan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandang mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya, serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
3. Mengusahakan agar para mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan negara, serta ahli di bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengotaan disiplin yang ketat. Usaha ini terjadi karena ruang lingkup pendidikan kita sangat sempit dan cenderung membuat manusia spesialis yang berpandangan kurang luas. Mata kuliah ini berusaha menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi nilai-nilai dan masalah dalam masyarakat lingkungan mereka khususnya dan masalah-masalah serta nilai-nilai umumnya tanpa terlalu terikat oleh disiplin ilmu mereka.
4. Mengusahakan wahana komunikasi para akademis kita agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan demikian bekal yang sama, para akademi diharapkan lebih lancar dalam berkomunikasi. Kalau cara berkomunikasi ini baik, selanjutnya lebih memperlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang keahlian. Meskipun spesialisasi sangat penting, spesialisasi yang terlalu sempit membuat dunia seorang mahasiswa/sarjana menjadi semakin sempit. Masyarakat yang percaya terhadap pentingnya modernisasi tidak dapat memanfaatkan secara penuh sarjana-sarjana seperti itu, sebab proses modernisasi memerlukan orang yang berpandangan luas.
Sesuai dengan materi yang disajikan dalam buku ini, maka tujuan ilmu budaya dasar secara keseluruhan adalah:
1. Mahasiswa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu budaya dasar
2. Mahasiswa mengetahui dan memahami arti kasih sayang, kemesraan, dan pemujaan
3. Mahasiswa memahami dan mengetahui arti keindahan
4. Mahasiswa memahami dan mengetahui arti penderitaan
5. Mahasiswa memahami dan mengetahui arti keadilan bagi kehidupan manusia
6. Mahasiswa memahami dan mengetahui arti pandangan hidup
7. Mahasiswa memahami dan mengetahui arti tanggung jawab pada kehidupan manusia
8. Mahasiswa dapat mengetahui tentang seluk-beluk kegelisahan hubungannya dengan kehidupan manusia
9. Mahasiswa mengetahui seluk-beluk harapan dalam kehidupan manusia
Dapatlah diperinci secara singkat bahwa tujuan ilmu budaya dasar ialah:
1. Menjadikan mahasiswa lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusiaan dan budaya, serta lebih bertanggung jawab terhadap masalah-masalah tersebut.
2. Menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, hormat dan menghormati serta simpati pada nilai-nilai lain yang hidup dalam masyarakat.
3. Mengembangkan daya kritis terhadap persoalan kemanusiaan dan daya kebudayaan.
4. Menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi masalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia dan dunia tanpa terpikat oleh disiplin mereka.
5. Mahasiswa mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun.
6. Memenuhi tuntutan dari Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya darma pendidikan.
D. Latar Belakang Ilmu Budaya Dasar
  Latar belakang diberikannya Ilmu budaya dasar bermula dari kritik yang diberikan oleh sejumlah cendekiawan (sarjan-sarjana pendidikan dan kebudayaan) mengenai sistem pendidikan di perguruan tinggi kita. Mereka menyarankan perbaikan sistem pendidikan kita yang dinilai sebagai warisan sistem pendidikan pemerintah Belanda pada masa penjajahan. Sistem pendidikan warisan tersebut merupakan kelanjutan dari politik balas budi (etische politiek) yang diajukan oleh Conrad Theodore Van Deventer yang bertujuan menghasilkan tenaga-tenaga terampil untuk menjadi tukang-tukang yang bisa mengisi birokrasi mereka dalam bidang administrasi, perdagangan, teknik, dan keahlian-keahlian lain demi lancarnya "usaha" mereka dalam mengekploitasi kekayaan negara kita. 
Sampai sekarang, sistem pendidikan yang terkotak-kotak telah menghasilkan banyak tenaga ahli yang berpengetahuan keahlian secara khusus dan mendalam (spesialisasi) dalam disiplin ilmu tertentu. Padahal pendidikan itu seharusnya lebih ditujukan pada kecendekiawanan daripada sekadar mencetak pekerja atau tukang-tukang yang terampil. Para lulusan perguruan tinggi diharapkan bisa berperan sebagai sumber utama bagi pembangunan negara secara menyeluruh. Dari para sarjana tersebut diharapkan adanyan sumbangan ide bagi pemecahan masalah-masalah sosial masyarakat yang sangat kompleks dan berkaitan satu sama lain, dan juga dalam masalah budaya. Selain itu pendidikan kita terlanjur menjadi sesuatu yang elite dalam masyarakat, sehingga keakrabannya dalam masyarakat kurang terasa. Perguruan tinggi kita seolah-olah merupakan menara gading yang sekaligus pabrik bagi produksi tukang-tukang. Keadaan tersebut, menuntut kita mengubah sistem pendidikan, sehingga diharapkan perguruan tinggi indonesia, mampu menghasilkan sarjana-sarjana yang tidak asing dengan denyut kehidupan masyarakat, dengan gejolak perkembangan dan kebutuhannya, dan mengenali dimensi-dimensi lain di luar disiplin keilmuannya. Sebagai ikhtisar untuk tujuan itu. Ilmu budaya dasar diberikan sebagai pelengkap pembentukan sarjana paripurna, yang mampu memecahkan permasalahan yang timbul dalam lingkungan masyarakat.
Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa. Lebih-lebih jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zaman.
Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, material dan spiritual berdasarkan pancasila, dan hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat indonesia seluruhnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia sebagai tempat interaksi kegiatan pembangunan spiritual maupun material serta pembangunan yang melihat manusia sebagai makhluk budaya dan sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia, menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa, menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan berkepribadian utuh yang memiliki moralitas dan integritas sosial yang tinggi serta menciptakan manusia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa.
Dewasa ini kita dihadapkan kepada tiga masalah yang saling berkaitan, yaitu:
1. Suatu kenyataan bahwa bangsa indonesia terdiri dari suku-suku bangsa, dengan latar belakang sosial budaya yang beragam. Kemajemukan tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang mampu mengatasi ikatan-ikatan promordial, yaitu kesukuan dan kedaerahan.
2. Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu menimbulkan pergeseran sistem nilai budaya dan sikap yang mengubah anggota masyarakat terhadap nilai-nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial, yang diikuti oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompok-kelompok masyarakat. Sementara itu, juga terjadi penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dipahami bila pergeseran nilai-nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan berbangsa.
3. Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi massa dan transportasi, membawa pengaruh terhadap intensitas kontak budaya antar suku maupun dengan kebudayaan dari luar. Terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing bukan hanya menyebabkan intensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya berlangsung dengan cepat dan luas jangkaunnya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang-kadang menimbulkan dampak terhadap tata nilai  masyarakat, yang sedang menumbuhkan identitasnya sendiri sebagai bangsa.
Untuk itulah, lulusan perguruan tinggi perlu dibekali pengetahuan yang dapat mengembangkan kepribadiannya sehingga mereka memiliki sikap hidup yang halus dan terbuka.
E. Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
Bertitik tolak dari kerangka tujuan, maka ruang lingkup kajian mata kuliah ilmu budaya dasar meliputi:
1. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya mengungkapkan masalah kemanusian dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) di dalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
2. Hakikat manusia yang satu atau universal, tetapi beragam perwujudannya, dalam kebudayaan masing-masing zaman dan tempat. Dalam melihat dan menghadapi lingkungan alam, sosial dan budaya, manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan-kesamaan, tetapi juga ketidakseragaman, sebagaimana ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak ungkapan, pikiran dan perasaan, tingkah laku, dan hasil kelakuannya.
Menilik kedua masalah pokok di atas, tampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak saja sebagian subjek, tetapi sekaligus objek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan manusia dengan tuhan menjadi tema sentral dalam ilmu budaya dasar.
  Kedua masalah pokok tersebut, sudah tentu masih memerlukan penjabaran lebih lanjut untuk bisa dioperasionalkan. Rumusan masalah yang akan dikaji dalam ilmu budaya dasar diformulasikan ke dalam satu tema, yaitu manusia sebagai makhluk budaya. Tema ini dikembangkan lebih lanjut ke dalam beberapa pokok bahasan, yaitu:
1. Latar belakang ilmu budaya dasar
2. Konsepsi ilmu budaya dasar dalam kesusastraan, seni rupa, dan seni musik
3. Konsepsi ilmu budaya dasar dalam agama
4. Konsepsi ilmu budaya dasar dalam filsafat
5. Konsepsi ilmu budaya dasar dalam keindahan
6. Konsepsi ilmu budaya dasar hubungan manusia dan cinta kasih, penderitaan, dan keadilan
7. Manusia dan pandangan hidup
8. Manusia dan tanggung jawab
9. Manusia dan kegelisahan, ketentraman
10. Manusia dan harapan
Dari pengembangan masalah termasuk, tampak orientasi bahwa dalam ilmu budaya dasar memang tidak terlepas dari masalah-masalah manusia dan kebudayaannya.
Kesepuluh pokok bahasan di atas pada dasarnya termasuk karya-karya yang tercakup dalam pengetahuan budaya (the humanities). Dan sebagaimana telah dikemukakan, semua pokok bahasan itu ditujukan untuk mendekati masalah yang akan dikaji dalam ilmu budaya dasar, baik secara sendiri-sendiri maupun secara gabungan antar bidang. Perwujudan cinta kasih, misalnya terdapat dalam karya-karya sastra, tarian, musik, filsafat, lukisan, patung dan sebagainya yang semuanya merupakan benda-benda budaya. Untuk itu, pokok bahasan mengenai manusia dan cinta kasih dapat didekati dengan menggunakan karya-karya tersebut.
Dengan penyusunan tema-tema semacam itu, dimaksudkan agar mahasiswa lebih mudah mengidentifiksasi dirinya dengan masalah yang dibahas untuk menunjukkan bahwa hal-hal yang didiskusikan sesuai dengan pengalaman hidup manusia.
Hakikat manusia yang satu, sebagai pokok kajian ilmu budaya dasar yang lain, mengkaji manusia sebagai makhluk budaya yang mempunyai akal, perasaan dan kehendak, tetapi beragam perwujudannya. Dalam menghadapi alam lingkungan, dan sosial budaya, manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan, melainkan juga ketidaksamaan dan ketidakseragaman, yang diungkapkan dalam perilaku, corak pikiran, perasaan dan sebagainya.
Ilmu budaya dasar merupakan suatu usaha untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengetahuan umum tentang konsep-konsep budaya untuk mengkaji masalah kemanusiaan dan budaya. Pendekatan pokok ilmu budaya dasar dilakukan dengan menggunakan pengetahuan dasar dan pengetahuan umum tentang konsep-konsep budaya baru berbagai keahlian dalam pengetahuan budaya, maupun dengan menggunakan masing-masing keahlian dalam pengetahuan budaya.

BAB II KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSASTRAAN, SENI RUPA DAN SENI MUSIK
A. KONSEPSI IBD DALAM KESUSTRAAN
Di samping puisi, dalam kesustraan dikenal pula bentuk drama sebagai wujud karya fiksi yang prosais. Apabila drama digunakan sebagai sumber pengajaran IBD, tentu bukan suatu hal yang aneh, Karena dalam batas-batas tertentu unsur-unsur drama,terutama jika drama dilihat dari segi karya sastra, maka dapat disajikan lewat materi fiksi. Drama pada dasarnya dapat disikapi sebagai karya pentas dan karya sastra.
Puisi dan drama sebagai karya sastra akan dibahas dalam kaitannya dengan konsepsi IBD yang terdapat didalamnya. 
1. Apakah puisi itu ?
Dipandang dari segi bentuk, pada umumnya puisi dianggap sebagi pemakaian atau penggunaan bahasa yang itensif. Minimnya jumlah yang digunakan dan padatnya struktur yang dimanupulasikan,sangatbrtpengaruh dalam menggerakkan emosi pembaca karena gaya penuturan dan gaya pelukisannya. Bahasa puisi dikataka lebih padat,lebihindah,lebih cemerlang dan hidup dari pada bahasa prosa atau percakapan sehari-hari. Bahasa puisi mengandung penggunaan lambang-lambang metaforis, dan bentuk-bentuk intuitif lain untuk mengekspresikan gagasan,perasaan dan emosi, karena puisi senantiasa menggapai secara eksklusif kearah imajinasi dan ranah (domain) bentuk-bentuk emotif dan artistiknya sendiri. Dalam pada itu, kepadatan bahasa puisi sebenarnya sangat berkaitan secara sinkron dan integratif dengan upaya sang penyair dalam memadatkan sejumlah pikiran,perasaan dan emosi serta pengalaman hidup yang diungkapkannya.
Hal yang membedakan seorang penyair dengan seorang pengarang prosa adalah kemampuannya dalam mengeksperikan hal-hal yang sangat besar dan luas dalam bentuk yang luas dan padat. Dan dipandang dari segi isinya,puisi yang bagus merupakan ekspresi yang benar atas keseluruhan kepribadian manusia sehingga dapat menyampaikan keinsafan pikiran dan hati manusia terhadap pengalaman dan peristiwa kehidupan secara luar biasa.
2. Mengapa puisi disajikan dalam IBD?
a. Hubungan puisi sengan pengalaman manusia
Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra / puisi disebut pengalaman perwakilan. Ini berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki salah satu kebutuhan dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman dari sekedar kumpulan pengalaman langsung yang terbatas. Dengan pengalaman perwakilan itu, puisi dapat menyebabkan mahasiswa memiliki kesadaran yang penting untuk melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri dan masyarakat.
Seiring membaca dan mendiskusikan hasil karya sastra / puisi dengan bimbingan dosen yang bijaksana dan matang,membuat mereka dapat berkembang untuk tidak saja mengerti terhadap diri mereka masing-masing dan hubungan dengan masyarakat tempat mereka hidup,tetapi juga terhadap keahlian dan kearifan senimannya.
Puisi mempunyai kekuatan untuk memperluas pengalaman hidup yang aktual dengan jalan mengatur dan mengeksintisikannya. Pengalaman yang melayani kebutuhan universal manusia untuk memperoleh perlarian dan obat penawar dari beban kesibukan hidup yang rutin.
b. Puisi dan keinsyafan / kesadaran individual
Dengan membaca puisi, mahasiswa dapat diajak untuk menjenguk hati dan pikir / kesadaran manusia,baik dalam hati dan pikiran orang lain maupun diri sendiri. Hal ini dimungkinkan oleh puisi itu sendiri, karena melalui puisi, sang penyair menunjukkan kepada pembaca bagian dalam hati manusia,ia menjelaskan pengalaman setiap orang.
Adalah hak dan misi seorang penyair lewat puisinya untuk membuka tabir yang menutupi hati manusia dan membawa kita melihat sedekat-dekatnya rahasia pikiran, perasaan dan impian manusia. Pada akhiranya puisi, memperluas daerah persepsi kita memperbesar dan memperdalam serta menyempurnakan sensibilitas emosional,kemampuan untuk merasakan, sehingga kita menjadi lebih sensitif, lebih responsif,dan lebih simpatik.
c. Puisi dan keinsyafan sosial
Puisi juga memberikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai mahluksosial,yang terlibat dalam isu dan problema sosial. Secara imajinatif,puisi dapat menafsirkan situasi dasar manusia sosial, berupa :
Penderitan atas ketidakadilan
Perjuangan untuk kekuasaan
Konflik dengan sesamannya
d. Puisi dan nilai-nilai
Dengan memberikan pengarahan dan bimbingan yang tepat dalam memproses membaca dan mendiskusikan puisi,mahasiswa akan menjumpai nilai-nilai yang bermanfaat bagi lingkuan hidupnya.
3. Drama sebagai karya sastra
Drama sebagai karya pentas (teater) melibatkan unsur-unsur teater seperti :
1. Dekorasi pentas
2. Komposispentas,baik yang berkenaan dengan bahan bergerak (aktor),maupun bahan statis (peralatan pentas)
3. Tata pakaian (costume)
4. Tata rias (makeup)
5. Tata sinar (lighting)
6. Tata bunyi / latar belakang bunyi (soundeffects)
Kata drama bersasal dari kata greekdraien yang berarti todo,toact. Sementar itu, kata teater berasal dari kata greektheatronn yang berarti tosee,toview. Perbedaan kedua istilah itu daoat dilihat pada pasangan ciri-ciri berikut:
Drama Teater Play : performance
Script  : production
Text      : staging
Author      : actor
Creation : interprestation
Theory  : practice
Dari perbandingan diatas, tampak bahwa dalam lebih merupakan lakon yang dipentaskan, skip yang belum diproduksikan, teks yang belum dipanggungkan atau hasil kreasi pengarang yang dalam batas-batas tertentu dalam masih bersifat teoritis. Sementara itu teater masih lebih merupakan performasi dari lakon atau hasil interprestasi aktor dari kreasi pengarang yang dalam batas-batas tertentu bersifat mempraktekkan.
4. Prosa fiksi sebagai materi dalam IBD
Istilah prosa fiksi banyak padanannya. Dalam bahasa Indonesia rekaan dan didifenisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisah yang mempunyai pemeran,lakuan aksi, peristiwa,dan alur yan dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman,novel,atau cerita pendek.
Yang dimaksud dengan nilai disini adalah persepsi dan pengertian yang diperoleh pembaca lewat sastra (prosa fiksi). Hendaknya disadari bahwa tidak semua pembaca dapat memperoleh persepsi dan pengertian tersebut. Nilai ini hanya dapat diperoleh secara otomatis dari pembaca. Hanya pembaca yang berasal mendapat pengalaman sastra saja yang dapat merebut nilai-nilai sastra.
1. Prosa fiksi memberikan kesenangan
2. Prosa fiksi memberikan informasi
3. Prosa fiksi memberikan warisan cultural
4. Prosa fiksi memberikan keseimbangan wawasan
Kesadaran adanya unsur-unsur eksternal di dalam fiksi (sastra) sebagai mana disebutkan diatas, mengakibatkan orang mencoba :
1. Mencari hubungan antar fiksi (sastra) dengan biografi atau psikologi pengarang. Kencendungan ini berdasarkan penyikapkan sastra sebagi produk individual pengarang atau kreaktor individual.
2. Mengaitkan faktor-faktor yang menentukan kreasi sastra (fiksi) dengan kehidupan institusional,seperti kondisi ekonomi,sosial atau politik,berangkat dari keyakinan bahwa semua itu sangat kuat mempengaruhi karya sastra.
3. Mencari penjelasan seab-sebab sastra dalam kaitannya dengan hasil-hasil pemikiran manusia lainnya, seperti ideology,filsafat, teologi,dan sebagainya.
4. Menerangkan sastra dalam kaitannya dengan semangat zaman,atmosfir atau iklim intelektual tertentu.
Fiksi memiliki alur (plot),tokoh / peran,aksi dan dialog. Semua ini merupakan unsure intrinsik fiksi, yang oleh StehpanMinot disebut sebagai alat-alat pokok.
1. Alur
Adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra. Yang memperhatikan pautan (koherensi) tertentu. Pautan ini dapat diwujudkan oleh hubungan sebab akibat, tokoh wira, atau pun tema.
2. Tokoh
Adalah orang atau pelaku yang memegang peran di dalam fiksi. Dalam jalinan cerita, tokoh tersebut bias tidak berubah sifatnya,bias juga berkembang atau berubah.
3. Aksi (lakuan)
Adalah deret pristiwa yang membangun karya sastra, atau pembabaran peristiwa dalam drama atau cerita rekaan yang membantukalur,tau lajunya peristiwa didalam alur.
4. Dialog
Percakapan didalam karya sastra atau drama,atau karangan yang menggambarkan percakapan diantara dua tokoh atau lebih.Didalam fiksi atau drama,dialog difungsikan untuk mengembangkan unsur-unsur lainnya, sepertialur, tokoh, nada, ironi dan tema.
Sastra, sebagai karya manusia yang berdasarkan keindahan dalam bahasa, juga memiliki aliran sesuai dengan rasa dan karsa penciptanya. Seperti halnya seni lukis yang telah diuraikan dimuka,seni sastra dapat dibedakan atas dua kelompok aliran, ayitulairan realisme dan aliran ekspresionalisme. Masing-masing aliran ini memiliki sub-aliran yang secar garis besar diuraikan seperti dibawah ini.
1. Realisme
Realisme merupakan aliran yang timbul berdasarkan secara yang alamiah. Aliran ini menitik beratkan pada objeknya. Arliran realisme terbagi lagi menjadi beberapa sub aliran, antar lain sebagai berikut :
Impresionisme
Naturalisme
Neo- Naturalisme
Determinisme
2. Ekspresionisme
Ekspresionisme merupakan suatu aliran dalam seni sastra yang timbul berdasarkan ekspresi penciptanya sehinga titik beratnya terletak pada subjeknya. Aliran ekspresionisme terbagi menjadi beberapa sub aliran,berikut ini :
Romantik
Idealisme
Simbolik
Surealisme
B. KONSEPSI IBD DALAM SENI RUPA
1. Arti dan tujuan seni rupa
Menurut Upjohn tujuan seni rupa adalah sebagai berikut :
Seni adalah jawaban terhadap tuntutan dasar kemanusiaan. Tujuan utamanya ialah menambah interprestasi dan melengkapi hidupnya. Adakalanya suatu waktu,seni dijadikan pembantu untuk tujuan lainnya. Seperti pengagungan agama.
2. Beberapa gaya dan corak seni rupa
Karena adanya perbedaan konsepsi pikiran dari masing-masing zaman,maka setiap zaman melahirkan kesenian dengan ciri-ciri yang khusus. Ada bermacam-macam gaya mempunyai corak pesona tersendiri dan khas. Di samping itu, tiap-tiap aliran corak, mempunyai tujuan tertentu atau fungsi sendiri-sendiri. Aliran mempunyai cita-cita seni sendiri,sesuai dengan pikiran zamannya.
Corak dan gaya seni modern eksposionis tidak terbatas oleh objek-objek tertentu,melainkan ditentukan oleh sikap batin si penciptanya dengan melampaui batas dan ruang waktu.
Dalam tahun 1970-an seni rupa baru yang didasari oleh semangat pembaruan. Dalam gerakan ini, suatu hal karya dapat lahir dari imajinasi yang bebas. Ada beberapa langkah yang merupakan gebrakan yang baru dalam aliran ini :
1. Membuang sejauh mungkin tentang adanya element-element khusus dalam seni rupa,sepertielement lukis dan element gambar.
2. Membuang sejauh mungkin sikap spelialis dalam seni rupa yang cenderung membangun bahasa alistis dan menjadikan maksud si seniman tidak dapat dipahami oleh masyarakat yang lebih menilainya sebagai bagian yang mengandung misteri
3. Mendambakan kemungkinan berkarya dalam arti mengharapkan keragaman gaya dalam seni rupa Indonesia.
4. Menciptakan perkembangan seni rupa Indonesia dengan jalan mengutamakan pengetahuan yang didasari oleh tulisan dan teori orang Indonesia yang menentang habis-habisan pendapat yang mengatakan bahwa seni rupa Indonesia adalah bagin dari sejarah seni rupa dunia,seni adalah universal.
5. Mencita-citakan seni rupa yang lebih hidup,dalam arti kehadirannya tidak diragukan,wajar,berguna dan hidup meluas dikalangan masyarakat.
C. KONSEPI IBD DALAM SENI MUSIK
Telah kita ketahui bahwa seni musik itu ada dua jenis ;
1. Music daerah, seperti : seni karawitan, degung sunda, music kolintang,dangedingsriwijaya.
2. Music nasional, seperti : padamu Negari, hallo-hallobandung, Gugur bunga, dan Syukur.
Konsep yang terdapat dalam musik berhubungan dengan perasaan cinta kasih,pengorbanan,kesejahteran,penderitaan,dan harapan. Karya musik klasik yang sangat terkenal adalah simponi kelima sangat terkenal karena mengungkapkan semangat pantang menyerah unuk melawan sang nasib. Penyebabnya sangat terkenal karena menggambarkan penderitaan manusia,dengan latar belakang sejarah serangan tentara. Kegelisahan,penderitaan,danharapan,putus asa serta keberanian melebur menjadi gubahan musik yang indah.

BAB III KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM AGAMA
Salah syarat yang teramat pennting adalam kehidupan manusia adalah keyakinan, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai agama. Tujuan agama adalah mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Syarat untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani ini adalah percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan dan memelihara semua yang ada di dunia ini.
Yang menjadi pokok utama bagi manusia untuk mempercayai Tuhan dan perlunya  hidup beragama adalah kebutuhan manusia akan rasa aman. Orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa selalu merasa dilindungi oleh Tuhan dalam keadaan bagaimanapun mereka tidak merasa takut.
Tuhan bagi agama monoteisme, bukan tuhan yang terdapat di tingkatan yang paling atas, bukan tuhan yang menciptkan kebenaran ilmu pasti, seperti kata filsafat Epicurus,tetapi tuhan yang bersifat Ar-Rahim, yaitu tuhan yang menyayangi dan menentramkan. Tuhan yang memenuhi jiwa dan hati manusia. Tuhan yang memberi rasa bahagia dan tentram kepada manusia.
Menurut Aristoteles, Tuhan adalah zat yang memberi arti kepada alam, tetapi dapat kita artikan bukan tuhan yang kita sembah dan dapat kita mintai. Tuhan menurut Aristoteles merupakan it dan bukan he.
Theisme adalah kepercayaan kepada Tuhan adalah zat yang menciptakan alam dunia, tetapi terbatas dalam dunia ini. Kepercayaan ini bersifat realis karena di dalamnya Tuhan merupakan zat yang ada tersendiri dan tidak bersandar kepada pengetahuan kita terhadap-Nya.

BAB IV KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM FILSAFAT
A. ARTI FILSAFAT
Filsafat diambil dari bahasa Arab falsafah, juga berasal dari bahasa Yunani philosophia, dan diuraikan menjadi: philo berarti cinta, dan Sophia berarti cinta hikmah atau cinta kebijaksanaan. 
Banyak sekali rumusan para ahli tentang pengertian filsafat yang berbeda satu sama lain. Perbedaan dalam merumuskan pengertian ini wajar, lebih-lebih bila diingat bahwa filsafat melambangkan hal yang abstrak.
Anshari setelah mempelajari berbagai rumusan tentang filsafat, memberikan kesimpulan bahwa:
a. Filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah yang termaksud berada diluar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
b. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami ( mendakami dan menyelami) secara radikal dan integral seta sistematis. 
B. CIRI-CIRI FILSAFAT 
Dalam definisi Gazalba di atas terdapat beberapa hal yang patuit diperbioncangkan si sini.
a. Berfilsafat adalah mencari kebenaran. Di dalam mencari kebenaran, filosof tidak bertujuan untuk mencari pujian, kedudukan, kemuliaan, dan sejenisnya, melainkan semata-mata untuk menghayati gerak dalam hatinya 
b. Berfilsafat adalah berpikir, tetapi berpikir tidak selalu berfilsafat. Berpikir dikatan berfilsafat apabila mengandung tiga ciri: ikal, sistematis, dan universal.
Radikal artinya berakar atau al artinya berakar atau berdasar, siap membongkar tempat berpijak fundamental.
Sistematis artinya logis, Sistematis artinya logis, bergerak selangkah dengan penuh kesadaran dan urutan yang bertanggung jawab dan hubungan yang teratur.
Universal artinya umum dan menyeluruh, tidak picik dan tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu. 
C. OBJEK FILSAFAT 
Ada 3 persoalan yang dapat dikatakan bersifat pokok, yaitu:
a. Adakah Allah dan siapakah Allah?
b. Apa dan siapakah manusia?
c. Apakah hakikat dari segala realitas, apakah maknanya dan apakah intisarinya?
D. FILSAFAT DAN KEBUDAYAAN 
Gazalba mendefinisikan kebudayaan sebagai “Cara berpikir dan mengungkapkan perasaan, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia, yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu.definisi Gazalba secara implicit mengetenghkan jenis-jenis kebudayaan, cara berpikir dan mengungkapkan perasaan, merupakan kebudayaan batiniah, sedangkan manifestasinnya dalam bentuk cara berrtingkah laku dan cara berbuat atau cara hidup adalah kebudayaan lahiriyah. Produk cara bertingkah laku, yang membentuk benda disebut kebudayaan  material.

BAB V KONSEPSI ILMU  BUDAYA DASAR DALAM KEINDAHAN
A. ARTI  KEINDAHAN
Kata keindahan berasal dari kata indah artinya bagus,permai,cantik,elok,molek dan sebagainya.Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala jenis seni,pemandangan alam,manusia,rumah,tatanan,perabot rumah tangga, suara, warna dan sebagainya.
Keindahan adalah identik dengan kebenaran.keindahan kebenaran dan keberadaan adalah keindahan.keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu berubah.
Keindahan juga bersifat universal artinya tidak terlihat oleh selera perseorangan,waktu dan tempat selera mode,kedaerahan atau lokal.
Apakah keindahan itu ?
Sebenarnya sulit bagi kita untuk menyatakan apakah keindahan itu.Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat di nikmati karena tidak jelas.Kindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan suatu yang berwujud atau suatu karya.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya “Garis besar estetika”Menurut asal katanya dalam bahasa inggris keindahan itu di terjemahkan dengan kata “beautiful” dalam bahasa perancis “beau” sedang italia dan spanyol “bello” berasal dari kata latin “bellum” Akar katanya adalah “bonum” yang berarti kebaikan, kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi “bonellum” dan terakhir di perpendek sehongga di tulis “bellum”.
Di samping itu terdapat pula perbedaan menurut luasnya pengertian, yakni :
a. Keindahan dalam arti yang luas
b. Keindahan dalam arti estetis murni
c. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan
Jadi pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi :
a. Keindahan  seni
b. Keindahan alam
c. Keindahan moral
d. Keindahan intelektual
NILAI ESTETIK
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan di anggap sebagi salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral,nilai ekonomik,nilai pendidikan dan sebagainya.
Apakah nilai estetik itu ? dalam bidang filsafat, istilah nilai seringkali di pakai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhagaan (worth) atau kebaikan (goodness).
Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai subyektif dan nilai obyektif atau ada yang nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan, Tetapi penggolongan yang penting adalah niali ekstrinsik dan niali intrinsik.
Nilai ekstrensik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (instrumental/contributory value) yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. Nilai intrinsik adalah  sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagau suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Contoh : puisi dan tari.
KONTEMPLASI DAN EKSTANSI
Keindahan yang di dasarkan pada selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan, dan menikmati sesuatu yang indah.
Apabila kontempasi dan ekstensi itu di hubungkan dengan kreatifitas maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi itu merupakan faktor pendorong untuk merasakan menikmati keindahan.
APA SEBAB MANUSIA MENCIPTAKAN KEINDAHAN ?
Keindahan itu pada dasarnya alamiyah.Alam ciptaan tuhan inin berarti bahwa keindahan itu ciptaan Tuhan.
Pengungkapan keindahan dalam karya seni didasari oleh motivasi tertentu dan dengan tujuan tertentu pula. Berikut ini akan di coba menguraikan alas an/motivasi dan tujuan seniman menciptakan keindahan :
a. Tata nilai yang telah using
Tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan,sehingga di rasakan sebagai hambatan yang merugikan dan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
b. Kemerosotan Zaman
Keadaan yang merendahkan derajad dan nilai kemanusiaan di tandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejad terutama dari segi kebutuhan seksual.
c. Penderitaan manusia
Banyak faktor yang membuat manusia menderita. Tetapi yang paling menentukan ialah faktor manusia itu sendiri.Manusialah yang membuat orang menderita sebagai akibat nafsu ingin berkuasa,serakah,tidak berhati-hati dan sebagainya.
d. Keagungan Tuhan
Keagungan Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadia-kejadian alam.Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan Tuhan, manusia hanya dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan itu.

BAB VI KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR ALAM HUBUNGAN MANUSIA DAN CINTA KASIH, PENDERITAAN DAN KEADILAN
A. MANUSIA DAN CINTA KASIH
1. Arti Cinta Kasih
Menurut kamus bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta , cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada) ataupun (rasa) sangat kasih atau tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belah kasih. Dengan demikian , arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga dapat dikatakan kata kasih lebih memperkuat kata cinta. Karna itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan perasaan belas kasihan.
Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hampir bersamaan. Keduanya memiliki perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, sifatnya mengarah kepada orang atau yang dicintai. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan dengan kata sayang, kata ini mengandung pengertian lebih nyata dalam wujud cinta seseorang.
Walaupun manusia memiliki cinta kasih lebih dari hewan, tidak semua manusia dapat memberikan cinta kasih yang sama banyaknya. Ada yang mampu memberikan cinta kasih dan adapula yang tidak.
Menurut tipologi Heymans, seseorang yang banyak memiliki cinta kasih termasuk dalam tipe kholerikus. Orang yang tergolong dalam tipe ini tidak mau diam dan selalu memiliki keinginan untuk berbuat sesuatu, dan kegiatannya selalu terarah kepada rasa sosiabilitas yang tinggi. Mereka memiliki rasa belas kasih, suka menolong sebagai pertanda rasa kasihnya kepada orang lain. Selain bertipe kholerikus, manusia tipe gepassioneerd juga memiliki sifat yang penuh cinta kasih walaupunia tergolong keras dan berdisiplin tinggi. Mereka orang-orang baik hati yang mau berbuat sesuatu untuk orang lain atas dasar cinta kasih.
Dalam bukunya seni mencintai, Erich Fromm menyebutkan bahwa dalam cinta itu yang terutama adalah memberi, bukan menerima. Memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Yang penting adalah memberi hal- hal yang bersifat manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan. Dalam pengasuhan , contoh yang paling menonjol adalah cinta seorang  ibu kepada anaknya, bagaimana cinta seorang ibu dengan rasa cinta kasih mengasuh anaknya sepenuh hati. Tanggung jawab adalah suatu tindakan yang benar-benar berdasarkan atas suka rela seperti hubungan ibu dengan bayinya. Oleh karna itu, tanggung jawab merupakan penyelenggaraan kebutuhan fisik. Perhatian merupakan suatu perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi orang lain, terutama agar mau membuka dirinya memperhatikan bagaimana adanya. Seperti halnya cinta yang merupakan anak dari pembebasan, tidak perna menjadi anak penguasa. Pengenalan meupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia. Berdasarkan keempat unsur tersebut, yaitu pengasuh, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan, suatu cinta dapat dibina secara lebih baik (Erich Fromm. 1983 : 24-27).
2. Kasih Sayang
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerwadarminta, kasih sayang diartikan kasih sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Ada beberapa bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan yang disayangi. Menurut Erich Fromm,cinta terdiri atas lima macam, yaitu:
a. Cinta terhadap Allah
Di antara objek-objek pemujaan, ada yang ditunjukan kepada Yang Maha Kuasa, yang bersifat pemujaan tertinggi. Pemujaan tersebut dilakukan oleh manusia religius atau manusia agama, yaitu orang-orang yang menitik baratkan kehidupan pada yang Maha Kuasa. Pemujaan terhadap yang Maha Kuasa disebabkan adanya kesadaran manusia atas kekuasaan dan kemampuan yang lebih tinggi dari kekuasaan dan kemampuannya, yaitu kekuasaan dan kemampuan yang dapat menentukan hidup matinya seluruh makhluk dimuka bumi ini. Begitu tinggi pemujaan itu diberikan sehingga manusia berkeyakinan bahwa selama hidup di dunia ini, mereka harus berbuat baik sesuai dengan perintah yang Maha Kuasa dan menghindarkan diri dari larangan-Nya. Mereka yakin ada kehidupan surga dan neraka setelah mati nanti, yang berbuat baik tempatnya di surga, sebaliknya yang melanggar perintah-Nya akan ditempatkan di neraka.
b. Cinta diri sendiri
Ada juga kasih sayang yang bersumber pada cinta diri sendiri (self love). Telah dikemukakan, bahwa di samping mencintai sesama manusia, seseorang perlu memilki cinta kepada diri sendiri. Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada diri sendiri diidentikan dengan egostis. Apabila maksutnya demikian , maka cinta diri sendiri bernilai negatif. Tetapi , kebutuhn jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar, maka cinta diri sendiri bernilai positif. Kita adalah orang pertama yang wajib mengurus diri sendiri! Contoh cinta diri sendiri yang mengandung nilai negatif. Misalnya , seorang ibu yang tidak mau hamil karena tidak mengingini tubuhnya yang indah menjadi rusak akibat kehamilannya. Contoh lain, seorang pria tidak ingin menikah karena menurutrnya pernikahan hanya akan menganggu dirinya . Akibatnya , timbulnya penyakit kejiwaan yang disebut lesbianisme pada wanita atau homoseksual pada pria. Karena sebagai manusia biasa , mereka sulit menghindarkan diri dari nafsu seks.
c. Cinta erotis
Kasih sayang yang bersumber dari cinta erotis (sifat kebirahian) merupakan suatu yang sifatnya eksklusif (khusus)., sehingga sering memperdayakan cinta yang sebenarnya. Hal ini disebabkan letak antara cinta dan nafsu yang tidak berbeda jauh.
Padahal, keduanya sangat bertolak belakang sifatnya. Kasih sayang dalam cinta erotis merupakan kontak seksual yang asli sedangkan kasih sayang yang ideal adalah yang bersumber pada cinta. Oleh karna itu, dalam kehidupan rumah tangga yang diikat dengan tali perkawinan bila seorang suami tidak mampu menikahi istrinya secara rohaniah, maka dalam dirinya akan timbul beban mental. Ia akan merasa berdosa atas kekurangannya, begitu juga sebaliknya, berdosalah seorang istri jika tidak mau melayani kehendak seksual suaminya. Oleh karna itu, timbul rasa tidak puas antara suami dan istri dalam hubungan seksual, sehingga akan menimbulkan kerenggangan hubungan yang dapat berakhir dengan perceraian.
Jadi, kasih sayang sebagai perwujudan cinta erotis dapat menjadi pengikat erat dalam hubungan suami istri . Apalagi bila mereka sudah dikaruniai anak . Namun, orang yang melakukan hubungan seksual atas dasar erotis tanpa didasari cinta, seperti yang terjadi di tempat pelacuran, tidak akan menimbulkan rasa kasih sayang karena yang ada hanya hubungan badan dengan pelicinnya, uang!
d. Cinta keibuan
Kasih sayang yang bersumber pada cinta keibuan, terdapat pada diri seorang ibu terhadap anaknya. Ibu yang memperoleh benih anak dari suaminya tercintaakan memelihara anaknya secara hati-hati dan penuh kasih sayang demi keselamatan keturunannya. Setelah anak lahir melalui penderitaan yang hebat , dirawat dan diasuhlah sang mutiara hati itu dengan penuh kasih sayang. Disusuianya dengan penuh pengertian dan kasih sayang sambil dibelai rambutnya, diajaknya tersenyum pada hubungan yang dekat, diberinya pakaian penghangat, digantinya pokok yang basah atau kotor, serta dimandikan agar permata hatinya kian segar. Seolah-olah tidak ada harta yang lebih berharga dari pada bayi yang selalu ditimang-timang dengan penuh rasa kasih sayang. Selain ibu, rasa cinta keibuan juga dimiliki oleh guru taman kanak-kanak atau perawat, juga mereka yang menggatikan fungsi seorang ibu, mereka yang mengajar anak-anak atau memelihara orang sakit dengan penuh kasih sayang. Sebagian besar adalah wanita yang memiliki naluri alamiah seperti seorang ibu. Namun, ada juga pria yang memilki naluri kasih sayang , seperti , kaum wanita.
e. Cinta persaudaraan
Cinta persaudaraan diwujudkan manusia dalam tingkah laku atau perbuatan. Cinta persaudaraan tidak mengenal batas-batas suku bangsa ataupun agama. Dalam cinta ini semua manusia adalah sama, yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah. Atas cinta yang demikianlah, seseorang tidak memiliki rasa pamrih untuk berbuat baik kepada sesamanya. Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu.
3. Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata mesra, yang menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti sangat erat atau karib, sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan yang sangat erat atau karib. Kemesraan bersumber pada rasa cinta kasih dan merupakan realisasinya yang nyata.
Kemesraan dapat diartikan keakraban karena kata akrab., asal katanya, juga berarti karib. Dengan demikian , kemesraan atau keakraban berarti keadaan yang mempererat hubungan. Kemesraan atau keakraban yang dilandasi dengan cinta dapat muncul dalam sifat-sifat romantik, terutama tampak dalam wujud gerak atau tingkah laku yang sedang bermesraan.
Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur dan secara umum dibedakan atas remaja, rumah tangga, dan manusia lanjut usia (manula). Berikut diberikan uraian masing-masing agar lebih jelas.
a. Kemesraan pada tingkat remaja
Kemesraan pada tingkat remaja pada umumnya terjadi ketika remaja berada pada masa pubertas, tegasnya pada masa genetal pubertas, yaitu masa dimana remaja memilki kematangan organ kelamin, yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat (heterosexual). Pada saat itu, cinta erotis akan berkembang dan bila tidak sadar atau kurang hati-hati, mereka dapat dengan mudah terjerumus ke dalam nafsu semata-mata.
Akan tetapi , kehidupan nyata telah membuktikan pada masa terakhir ini, pria mulai dikalahkan perananya oleh para wanita. Hal tersebut cenderung merupakan penyimpangan pola yang bersifat sosial dan merupakan faktor ekstern dalam hubungan pria dan wanita. Beberapa faktor yang menyebabkan penyimpangan pola tersebut antara lain adalah:
1. Jumlah wanita lebih banyak dari pada pria.
2. Masyarakat dan pemerintah mengarah kepada perkawinan monongami, yaitu perkawinan seorang pria dengan seorang wanita.
3. Emansipasi wanita dan kemunduran kaum pria mulai terjadi dalam banyak hal, seperti persamaan kedudukan sebagai pegawai kantor, baik pangkat maupun gaji, banyaknya wanita yang lebih maju dalam karier sehingga pria tertinggal.
b. Kemesraan dalam rumah tangga
Kemesraan terjadi juga dalam rumah tangga. Dalam tradisi lama, perjodohan ditentukan oleh orang tua atau keluarga, atau diistilahkan sebagai kawin paksa sehingga anak yang dijodohkan harus menurut. Pada umumnya, hal ini disebabkan oleh keinginan keluarga untuk memelihara hubungan dengan keluarga lain melalui perkawinan putra-putrinya. Alasanya demi menyatukan tulang-tulang yang berserakan atau menjaga harta benda keluarga agar tidak lari ke tempat lain. Dengan cara tersebut, cinta kasih yang biasa mengawali perkawinan tidak perna terjadi. Diharapkan justru setelah mereka menikah, cinta kasih yang didambakan dapat terjalin. Tata cara kawin paksa banyak menjadi sasaran ejekan sastrawan muda pada awal abad 20 seperti yang terlukis dalam buku. Salah Asuhan karya Abdul Muis atau Dian yang  Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisyahbana.
Pada masa-masa tersebut, rumah tangga sering mengalami krisis sehingga cinta kasih antara suami istri menjadi tidak harmonis lagi. Ada tiga penyebab yang mempengaruhinya, yaitu masalah fisik, psikis, dan sosial, seperti yang diuraikan berikut ini.
1) Faktor fisik
Dalam usia 45 tahun, istri mulai tampak tua , apalagi bila ia telah berhenti haid, ia merasa nafsu seksnya berkurang dan merasa bahwa tugasnya sebagai seorang wanita untuk memproduksi keturunan sudah berakhir. Sebaliknya, pria dalam usia tersebut merasa fisiknya justru sedang hebat-hebatnya, life begin at fourty dikatakan bahwa waktu itu pria sedang mengalami masa puber kedua. Pada masa itu mereka sedang di simpang jalan.
2) Faktor psikis
Dalam usia sekitar 45 tahun, istri mulai merasakan kejenuhan  dalam menghadapi soal partner yang tetap, yaitu suaminya,sehungga  terjadi keenggangan untuk melayani kebutuhan rohaani sang suami. Demikian pula dengan suami, sehingga ketika istri mulai enggan, suami mencari partner yang lain, baik untuk dijadikan istri muda atau istri simpanan atau hanya sekedar main-main dengan wanita yang lebih muda dan lebih menarik dari istrinya, terutama yang mampu melayani kebutuhannya.
3) Faktor sosial
Faktor sosial di sini timbul karena peralihan titik perhatian istri. Kalau sewaktu mulai berumah tangga perhatiannya dipusatkan hanya pada suaminya saja, maka dalam usia 45 tahun perhatiannya mengarah pada kepentingan anak-anak atau cucu-cucunya. Sementara, suami dalam usia seperti itu, mulai memperhatikan karier atau hubungannya dengan masyarakat juga mengalihkan perhatiannya dari istrinya pada pekerjaan ataupun organisasi sosial.
c. Kemesraan manusia lanjut usia
Kemesraan juga dapat diteruskan dalam masa manusia usia lanjut (manula). Pandangan lama mengatakan, bahwa kalau manusia sudah usia lanjut, sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, tidak pantas lagi bermesraan. Apabila dilakukan, akan menjadi tertawa anak, cucu ataupun cicitnya. Pandangan demikian sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang yang justru dalam keadaan tersebut, kemesraan harus tetap dipelihara. Tentu saja cara bermesraan jauh berbeda dengan kemesraan waktu remaja. Kemesraan bagi manula dapat diwujudkan dalam makan, duduk, jalan-jalan, nonton televisi atau membaca koran bersama-sama. Alangkah bahagianya apabila pasangan ini dapat merayakan kawin tembaga (12,5 tahun), kawin perak (25 tahun), kawin emas (50 tahun), apalagi kawin berlian (60 tahun) diantara ramainya anak, cucu dan cicit. Mereka akan menjadi contoh teladan bagi keturunannya. Tingkat kemesraan dalam manula, kiranya makin terasa apabila pasangan yang sudah tua sering berdarmawisata berdua, mengunjungi tempat-tempat yang indah di dalam negeri, lebih-lebih di luar negeri.
4. Pemujaan
Pemujaan berasal dari kata puja. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwardaminta, kata puja berarti penghormatan atau memuja dewa- dewa atau berhala-hala. Dalam perkembangannya, pujaan dapat ditunjukan kepada orang yang di cintai , pahlawan yang diagungkan, dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam pujaan terkandung pengertian bukan sekedar dipuja, tetapi juga disucikan.
Pujaan seseorang terhadap orang yang dicintainya diwujudkan dalam personofikasi dan kata-kata yang indah, misalnya diibaratkan sebagai bunga mawar merah dan melati putih. Banyak karya besar dan penyair-penyair terkenal yang mengambil tema dari pujaan hatinya. Misalnya, Dante Alighieri (1265-1321) memuja Beatrice, Giovanni Boccacio (1313-1375) memuja Flametta, Fancesco, dan Petrarca (13104-1374) memuja Laura. Begitu besar karya-karya mereka sehingga memberi ciri ranaisans (kelahiran kembali) di Eropa.
Cara pemujaan
Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai cara pemujaan sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi, dan situasi. Sembayang di rumah mesjid, gereja, pura, candi, atau di tempay-tempat yang dianggap keramat merupakan perwujudkan dari pemujaan kepada Tuhan atau yang dianggap Tuhan.
Oleh karena itu, pemujaan sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal itu berarti manusia memohon ampun atas segala dosanya, mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaan, agar ditunjukan jalan yang benar, mohon ditambahkan segala kekurangan yang ada padanya, dan lain-lain.
Bila setiap hari manusia memuja kebesaran-Nya dan selalu mohon apa yang diinginkan dan Tuhan selalu mengabulkan permintaan umat-Nya. Maka wajarlah bila cinta manusia kepada Tuhan adalah cinta mutlak. Cinta yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Alangkah besar dosa kita, apabila kita tidak mencintai-Nya, meskipun hanya sekejap.
Tempat pemujaan
Mesjid, gereja, candi, pura merupakan tempat manusia beromunikasi dengan Tuhannya atau yang dianggap Tuhan. Di tempat-tempat itulah, Tuhan berada. Karena itu, orang Islam menamaan masjid sebagai rumah Allah maka wajarlah bila dibuat sebagus mungkin, sesuai dengan kemampuan masing- masing. Tempat itu dianggap suci, maka tidaklah pantas dan tidak wajar dipergunakan untuk keperluan lain kecuali untuk membesarkan nama Tuhan.
Apabila berhasil membangun tempat memuja, tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhannya atau yang dianggap Tuhannya sebesar dan seindah mungkin, maka banggalah masyarakat itu. Kebanggaan itu adalah kepuasan batinnya akan kemaksimalan cinta dan pengabdiannya kepada Tuhan.
Banyak tempat pemuja yang merupakan kebanggaan bangsa, misalnya candi Wisnu di kamboja, yang dikenal dengan Angkor, merupakan kebanggaan bangsa kamboja sebagai bukti cinta terhadap Tuhannya.
Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan
Seperti dikemukakan di atas, cinta menimbulkan daya kreativitas penciptanya. Dalam seni pahat banyak kita jumpai area-area yang menggambarkan dewa-dewa atau sesuatu yang dipujanya. Sudah tentu tinggi rendahnya hasil seni itu bergantung pada kemampuan penciptanya.
Sebagian seni tari memiliki sifat mengagungkan nama Tuhan atau yang dianggap Tuhan, misalnya, rtari sembhyang Dedari dan tari sembhyang Jarng di Bali. Tari itu hanya dipertunjukan pada upacara agama dilakukan pada dini hari dan tidak boleh ditonton oleh para turis, penontonnya sangat terbatas.
Kesimpulan
Pemujaan terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta membangkitkan daya kreativitas. Pengertian dasar kreativitas adalah menciptakan, menemukan, berkarya, mencari bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan suatu hubungan. Dalam mencari bentuk-bentuk ini, pemujaan dapat berupa sembhyang sebagai media komunikasi membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah mungkin, menciptakan lagu, puisi, novel, film, dan sebagainya.
B. MANUSIA DAN CINTA KASIH
Hidup tanpa cinta itu kosong. Cinta amat penting dalam kehidupan manusia. Belumlah sempurna hidup seseorang jika dalam hidupnya tidak pernah dihampiri atau dihinggapi perasaan cinta. Karena manusia di dunia tidak hanya seorang diri, melainkan selalu melibatkan pihak lain, dengan istilah cinta tersebut haruslah diartikan, baik mencintai maupun dicintai. Pihak lain yang dimaksud di sini bukan hanya orang lain, melainkan juga benda-benda atau makhluk lain.
Dalam diri setiap manusia terdapat dua sumber kekuatan yang menggerakannya untuk berbuat atau bertingkah laku; termasuk untuk mencintai atau dicintai. Dua sumber kekuatan itu adalah akal dan budi di satu pihak, dan nafsu dipihak lain. Jadi, perasaan cinta dapat dipengaruhi oleh dua sumber, yaitu perasaan cintayang digerakan oleh akal budi dan perasaan cinta yang digerakan oleh nafsu. Yang pertama disebut cinta tanpa pamrih atau cinta sejati, sedangakan cinta nafsu atau cinta pamrih. Oleh Prof. Dr. Louis Leahy S. J . menyatakan bahwa cinta tanpa pamrih disebut cinta utilitaris atau yang bermanfaat, artinya , yang mengindahkan kepentingan diri sendiri. Biasa disebut orang dengan istilah cinta karena ada maksud tersembunyi.
Dalam cinta kasih atau cinta sejati tidak ada kehendak untuk memiliki, apalagi menguasai. Yang ada hanyalah solidaritas, rasa senasib dan sepenanggungan dengan orang yang kita cintai dan tumbuh secara wajar serta bersifat sukarela. Cinta kasih sedikit pun tidak ada hubungannya dengan kenikmatan aaatau keinginan (Mary Lutyens,1969). Menurut Moh. Said, cinta kasih atau cinta sejati tidak menimbulkan kewajiban, melainkan tanggung jawab.(Moh. Said Reksohadiprodjo,1976).
Cinta kasih atau cinta sejati adalah rasa cinta yang tulus dan tidak memerlukan atau menuntut balas. Ia lebih banyak memberi dari pada menerima.
Demikianlah wujud cinta terhadap sesama manusia yang harus kita tumbuhkan dalam hati urani. Cinta kasih atau cinta sejati adalah cinta kemanusiaan yang tumbuh dan berkembang dalam lubuk senubari setiap manusia, bukan dorongan pentingan melainkan atas dasar kesadaran bahwa pada hakikatnya manusia itu satu.
Cinta kasih itu meliputi seluruh dunia, tanpa melihat suku bangsa, warna kulit, agama, dan sebagainya dan tidak mengenal batas sesuatu yang ada dan melekat pada sesuatu yang dicintai. Cinta kasih keberadaannya bukan disebabkan oleh unsur-unsur yang bersifat eksternal, yang ada diluar diri kita, melainkan oleh unsur-unsur yang bersifat internal, yang bersemayam dan berkembang di dalm diri kita masing-masing.
Cinta kasih itu mengenal iri, cemburu, persaingan dan sebagainya. Yang ada adalah perasaan yang sama dengan perasaan yang ada pada seorang yang dicintai, mengapa? Karena dirinya adalah diri kita, gembiranya adalah gembira kita. Bagi cinta kasih pengorbanan adalah suatu kebahagian. Sebaliknya, ketidakmampuan membahagiakan atau paling tidak meringankan beban yang dicintai atau yang dikasihi adalah suatu penderitaan.
C. MANUSIA DAN PENDERITAAN
Penderitaan berasal dari kata derita; derita berasal dari bahasa Sansekerta dhra yang artinya menahan atau menanggung. Penderita, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W. J. S Poerwadarminta, artinya menanggung (merasakan) sesuatu yang tak menyenangkan. Dengan demikian, penderitaan merupakan lawan dari kesenangan atau kegembiraan.
Penderitaan adalah salah satu resiko dalam kehidupan yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, disamping kesenangan atau kebahagiaan yang diberikan kepada umatnya. Tetapi, semua itu diberikan bukan tanpa rencana. Tuhan menciptakan keduanya, terutama penderitaan atau kesedihan dengan maksud agar manusia dalam keadaan bahagia atau sedih, senang atau menderita, selalu ingat kepada-Nya. Hal itu lebih bersifat ujian. Tetapi, Tuhan tidak pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan manusia. Itulah sebabnya, sebelum membrikan penderitaan, Tuhan memberi tanda. Hanya saja, mampukah manusia menangkap atau tanggap terhadap peringatan yang diberikan-Nya?
Dengan mempelajari berbagai kasus penderitaan, manusia berarti mempelajari sikap, nilai, harga diri, ketamakan, kesombongan orang, dan sebagainya. Semua itu bermanfaat memperdalam dan memperluas persepsi, tanggapan, wawasan, dan penalaran bagi yang mempelajarinya.
D. MANUSIA DAN KEADILAN
1. Arti Keadilan
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W. J. S. Poerwadarminta, kata adil berarti tidak berat sebelah atau tidak memihak ataupun tidak sewenang-wenang. Dengan demikian, keadilan mengandung pengertian berbagai hal yang tidak berat sebelah atau tidak mem, hak atau tidak sewenang- wenang.
Keadilan, pada umumnya perlu diperoleh bahkan kalau terpaksa dituntut. Akan tetapi, untuk memperoleh keadailan biasanya diperlukan pihak kettiga sebagai penengah. Dengan harapan, pihak ketiga ini dapat betindak adil terhadap pihak yang berselisih. Ia harus netral, tidak boleh menguntungkan satu pihak. Pihak ketiga sangat diperlukan karena tanpa kehadirannya, pihak yang berselisih akan bersikap konfr ontatif yang bila dibiarkan dapat mengarah kepada kekerasan.
Berdasarkan pernyataan di atas, keadilan merupakan salah satu ciri hukum. Dalam hukum, tuntutan dua hukum mempunyai dua arti, yaitu arti formal dan arti material. Dalam arti formal, keadilan menuntut supaya hukum berlaku secara umum, sehingga semua orang dalam situasi yang sama diperlakukan secara sama. Hukum tidak mengenal pengecualian. Di hadapan hukum,kedudukan orang adalah sama, inilah yang disebut asas kesamaan atau kesamaan kedudukan. Sementara itu, dalam arti material, isi hukum harus adil. Adil disini adalah adil yang dianggap oleh masyarakat, jadi bukan sekedar secara formal saja. Itulah sebabnya suatu sidang pengadilan belum selesai apabila belum ada kesesuaian antara keputusan sidang dan penilaian masyarakat. Karena itu, apabila putusan pengadilan dirasakan tidak adil, reaksi masyarakat akan timbul.
Selain sebagai ciri keadilan, hukum juga mempunyai ciri kepastian. Kepastian di sini bukan semata-mata formal seperti apa tersurat dalam hukum, tetapi kepastian yang dalam pelaksanaannya mengandaikan kepastian orientasi.kepastian menuntut agar hukum dirumuskan secara sempit dan ketat sehingga tidak terjadi kekaburan atau penafsiran yang berbeda-beda. Namun demikian, hukum itu sendiri seperti telah dikemukakan sebelumnya, dapat disebut adil apabila dapat diterima oleh masyarakat. Hukum memang harus pasti, tetapi tidak boleh dimutlakkan, maka dalam hukum diperlukan adanya keluwesan agar keadilan dapat diwujudkan.untuk lebih mendalami soal keadilan, pelu dikenal adanya hukum kodrat dan hukum positif. Hukum kodrat (lexnaturalis) merupakan hukum yang berdasarkan penciptanya. Hukum ini adalah Illahi yang memiliki sifat abadi. Hukum positif dan hukum manusia (lex humana) berbeda dengan hukum kodrat, sifatnya tidak abadi. Hukum ini diciptakan oleh manusia sehingga dapat diganti apabila manusia yang menciptakannya ingin mengganti karena sudah tidak sesuai dengan keadaan. Tetapi, kedua hukum itu memiliki persamaan karena menyangkut tentang hak-hak asasi manusia.
2. Kejujuran
Jujur atau kejujuran berarti apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya. Jujur berarti juga seseorang bersih hatinya dari perbuatan- perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Juujur berarti pula menepati janji atau menepati kesanggupan, baik yang telah terlahir dalam kata-kata maupun yang masih dalam hati (niat). Jadi, seseorang yang tidak menepati niatnya berarti mendustai dirinya sendiri. Apabila niat tersebut telah terlahir dalam kata-kata, namun tidak ditepati, ia telah melakukan maka ia telah melakukan kebohongan yang dapat disaksikan orang lain.
Pada hakikatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya persamaan hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap atau dosa.
Adapun kesadaran moral adalah kesadara tentang diri kitasendiri karena kita melihat diri kita sendiri berhadapan dengan hal baik atau buruk. Di situ manusia dihadapkan kepada pilihan antara yang halal dan haram, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan. Dalam hal itu, kita melihat sesuatu yang spesifikatau khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada tentang jujur atau tidak jujur, patut dan tidak patut, adil dan tidak adi, dan sebagainya.
Berbagai hal yang menyebabkan orang berbuat tidak jujur adalah perasaa tak rela, pengaruh lingkungan, sosial ekonomi, terpaksa ingin populer, sopan satun, dan untuk mendidik.
3. Pemulihan nama baik
Nama baik adalah tujuan utama hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih- lebih jika ia menjadi teladan bagi lingkunagn di sekitarnya.
Tingkah laku yang baik pada hakikatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu:
Manusia menurut sifat dasarnya adalah makhluk moral.
Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri, yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
Pada hakikatnya pemuliahan nama baik merupakan kesadaran manusia akan segalah kesalahannya bahwa perbuatannya tidak sesuai dengan ukuran moral atau akhlak.
Untuk memulihkan nama baik, seseorang harus tobat dan meminta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya di bibir, melainkan diterapkan pada tingkah laku yang sopan, ramah, berbuat budi darma, penuh kasih sayang, tanpa pamrih, takwa kepada Tuhan, dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, dan berbudi luhur.
4. Pembalasan
Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan, bahwa tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa pembalasannyadi Surga , dan bagi yang mengingkari diberi balasan seimbang, yaitu siksaan neraka.
Pembalasan disebabkan oleh pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balsan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balsan yang tidak bersahabat.
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk sosial. Dalam bergaul, manuisa harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkungnannya yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban orang lain.
Karena setiap manusia tidak ingin hak dan kewajibannya dilanggar dan diperkosa, ia berusaha mempertahankannya. Mempertahankan hak dan kewajiban adalah pembalasan.

BAB VII MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
A. Hakikat Manusia
Dalam pikiran dan perasaan manusia, ada beberapa faktor penting yang harus menjadikan manusia sebagai makhluk yang berakal, yakni :
1. Pandangan hidup
Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan, tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan.
Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.
Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendah sampai dengan tingkatan yang paling tinggi, mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya sajalah yang berbeda. Bagi orang yang kurang kuat imannya ataupun kurang luas wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita, tindakannya biasanya mengarah pada hal-hal yang bersifat negative.
Disinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang. Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya.
Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada sang pencipta bila sedang dirudung kesusahan. Namun, bila manusia sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya dan berkurang rasa pengabdiannya kepada sang pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain :
1. Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini.
2. Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya.
3. Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.
4. Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam pandangan hidupnya.
5. Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri.
Pandangan hidup tidak sama dengan cita-cita. Sekalipun demikian, pandangan hiup erat sekali kaitannya dengan cita-cita. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.
Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir didalam masyarakat. Manuel kaisiepo (1982) dan abdurrahman wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup itu bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta tidak selamanya bersifat positif.
Pandangan hidup yang sudah diterima oleh sekelompok orang biasanya digunakan sebagai pendukung suatu organisasi disebut ideology. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan, bimbingan, tuntutan seseorang ataupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujuan akhir.
2. Cita-cita
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup. Cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepas diri dari cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu.
Orang tua selalu menimang-nimang anaknya sejak masih bayi agar menjadi dokter, insinyur, dan sebagainya. Ini berarti bahwa sejak anaknya lahir, bahkan sejak dalam kandungan, orang tua telah berangan-angan agar anaknya itu mempunyai jabatan atau profesi yang biasanya tak tercapai oleh orang tuanya.
Selain dari itu, pada setiap kelahiran bayi, do’a yang di ucapkan oleh family atau handai taulan biasanya berbunyi : “ semoga kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan berbakti kepada orang tua.
Karena itu wajarlah apabila cita-cita, kebajikan, dan pandangan hidup merupakan bagian hidup manusia. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup. Sudah tentu kadar atau tingkat cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup itu berbeda-beda bergantung kepada pendidikan, pergaulan, dan lingkungan masing-masing.
Cita-cita itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam hati. Cita-cita sering kali diartikan sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat atau harapan. Cita-cita itu penting bagi manusia, karena adanya cita-cita menandakan kedinamikan manusia.
Ada tiga kategori keadaan hati seseorang yakni lunak, keras,dan lemah, seperti :
Orang yang berhati keras, biasanya tak berhenti berusaha sebelum cita-citanya tercapai. Ia tidak menghiraukan rintangan, tantangan, dan segala esulitan yang dihadapinya. Orang yang berhati keras biasanya juga mencapai hasil yang gemilang dan sukses hidupnya.
Orang berhati lunak biasanya dalam usaha mencapai cita-citanya menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Namun ia tetap berusaha mencapai cita-cita itu. Karena, biarpun lambat ia akan berhasil juga mencapai cita-citanya.
Orang yang berhati lemah biasanya mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Bila menghadapi kesulitan cepat-cepat ia berganti haluan dan berganti keinginan.
3. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan pada hakikatnya adalah perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik dan makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu :
a. Manusia sebagai pribadi, yang menentukan baik-buruknya adalah suara hati. Suara hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi suara hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik, namun manusia seringkali tidak mau mendengarkan.
b. Manusia sebagai anggota masyarakat, yang menentukan baik-buruknya adalah suara hati masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap baik. Sebagai anggota masyarakat, manusia tidak dapat membebaskan diri dari kemasyarakatan.
c. Manusia sebagai makhluk tuhan, manusia pun harus mendengarkan suara hati tuhan. Suara tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik dan buruk, harus kita dengar pula suara tuhan atau kehendak tuhan. Kehendak tuhan berbentuk hukum tuhan atau hukum agama.
Jadi, kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat, dan hukum tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah-tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.
Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri.
4. Sikap hidup
Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang positif atau yang negatif. Apakah kita mempunyai sikap optimis atau pesimis? Atau apakah kita mempunyai sikap yang apatis?.
Sikap itu ada didalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu.orang lain hanya baru tahu setelah kita bertindak. Sikap itu penting, setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat dibentuk sesuai kemauan yang membentuknya.
Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan. Dalam menghadapi kehidupan, manusia selalu menghadapi manusia lain atau menghadapi sekelompok manusia. Ada beberapa sikap etis dan non etis. Sikap etis disebut juga sikap positif, dan sikap non etis disebut juga sikap negatif.
Ada tujuh sikap etis, yaitu :
Sikap lincah - sikap arif
Sikap rendah hati - sikap berani
Sikap tenang - sikap halus 
Dan sikap bangga
Sikap non etis atau sikap negatif, yaitu :
Sikap kaku - sikap takut
Sikap gugup - sikap kasar
Sikap angkuh - sikap dan sikap rendah diri
Sikap-sikap ini harus dijauhkan dari diri pribadi-pribadi., karena sangat merugikan baik bagi pribadi masing-masing maupun bagi kemajuan bangsa.
B. Manusia Dan Pandangan Hidup
Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Satu diantara keunggulan manusia tersebut ialah pandangan hidup. Disatu pihak manusia menyadari bahwa dirinya lemah, dipihak lain manusia menyadari kehidupannya lebih kompleks.
Kesadaran akan kelemahan dirinya memaksa manusia mencari kekuatan diluar dirinya. Dengan kekuatan ini manusia berharap dapat terlindung dari ancaman-ancaman yang selalu mengintai dirinya, baik yang fisik maupun non fisik. Seperti penyakit, bencana alam, kegelisahan, ketakutan, dan sebagainya.
Selain itu manusia sadar pula bahwa kehidupannya itu lain bila dibandingkan dengan kehidupan makhluk lain. Sadar pula bahwa dibalik kehidupan ini ada kehidupan lain yang diyakini lebih abadi. Lebih yakin lagi bahwa kehidupan lain itu bahkan merupakan kehidupan yang sesungguhnya.
Disana setiap manusia akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan selama hidup didunia. Manusia tahu benar bahwa baik dan buruk itu akan memperoleh perhitungan, maka manusia akan selalu mencari sesuatu yang dapat menuntunnya kearah kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan.
Akhirnya manusia menemukan apa yang disebut “ sesuatu dan kekuatan diluar dirinya “. Ternyata keduanya adalah “ agama dan tuhan “. Dengan demikian bahwa pandangan hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya tidak semua manusia yang memahaminya, sehingga banyak orang yang memeluk suatu agama semata-mata atas dasar keturunan. Akibatnya banyak orang yang beragama hanya pada lahirnya saja dan tidak sampai batinnya. Atau yang sering dikenal dengan agama ktp. Padahal urusan agama adalah urusan akal, seperti dikatakan oleh nabi muhammad saw. Dalam satu hadistnya : agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal.”
Maksud nabi muhammad saw tersebut ialah agar manusia dalam memilih suatu agama benar-benar berdasarkan pertimbangan akalnya, dan bukan semata-mata karena asas keturunan. Hal ini ditegaskan oleh firman allah swt dalam surat al-baqarah ayat-236 yang artinya :
“Tidak ada paksaan untuk memasuki sesuatu agama, sesungguhnya telah jelas antara jalan (agama) yang benar dan jalan (agama) yang salah.”
Ternyata, pandangan hidup sangat penting. Baik untuk kehidupan sekarang maupun kehidupan di akhirat. Dan sudah sepantasnya setiap manusia memilikinya. Maka pilihan pandangan hidup harus betul-betul berdasarkan pilihan akal bukan sekedar ikut-ikutan saja.
Perlu kita sadari bahwa baik tuhan maupun agama bagi kita adalah suatu kebutuhan. Bukan kebutuhan sesaat seperti makan, minum, tidur, dan sebagainya. Melainkan kebutuhan yang terus menerus dan abadi. Sebab setiap saat kita memerlukan perlindungan allah swt dan petunjuk agama sampai diakhir nanti.
Firman allah swt yang artinya :
“Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat ; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta.” (qs.fushilat : 31).

BAB VIII MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A. ARTI TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab berarti juga berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. 
Sebagai seorang mahasiswa, kewajiban Anda adalah belajar. Bila belajar, berarti Anda telah memenuhi kewajiban. Berarti pula Anda telah bertanggung jawab atas kewajiban Anda. Bagaimana kegiatan belajar Anda, itulah kadar pertanggungjawaban Anda. Bila pada ujian Anda mendapat nilai C atau B, maka nilai C atau B itulah kadar pertanggungjawaban Anda.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bertanggung jawab. Disebut demikian karena manusia selain makhluk individual dan makhluk social juga makhluk Tuhan. Manusia mempunyai tuntutan yang besar untuk bertanggung jawab mengingat ia mementaskan sejumlah peranan dalam konteks sosial, individual maupun teologis.
Dalam konteks sosial, manusia merupakan makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup sendirian dengan perangkat nilai-nilai selera sendiri. Nilai-nilai yang diperankan seseorang dalam jalinan sosial harus dipertanggungjawabkan sehingga tidak mengganggu konsensus nilai yang telah disetujui bersama.
Masalah tanggung jawab dalam konteks individual berkaitan dengan konteks teologis. Manusia sebagai makhluk individual artinya harus bertanggung jawab terhadap dirinya (keseimbangan jasmani dan rohani). Tanggung jawab manusia terhadap dirinya akan lebih kuat intensitasnya apabila ia memiliki kesadaran yang mendalam. Tanggung jawab manusia terhadap dirinya juga muncul sebagai akibat keyakinannya terhadap suatu nilai. 
Demikian juga tanggung jawab manusia terhadap Tuhannya timbul karena manusia sadar akan keyakinannya terhadap nilai-nilai. Dalam hal ini terutama adalah hal keyakinan nilai yang bersumber dari ajaran agama. Manusia bertanggung jawab terhadap kewajiban menurut keyakinan agamanya.
Tanggung jawab dalam konteks pergaulan manusia adalah keberanian. Orang yang bertanggung jawab adalah orang yang berani menanggung risiko atas apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ia jujur terhadap dirinya dan jujur terhadap orang lain, tidak pengecut dan mandiri. Dengan rasa tanggung jawab, orang yang bersangkutan akan berusaha melalui seluruh potensi dirinya. Orang yang bertanggung jawab adalah orang yang mau berkorban demi kepentingan orang lain.
Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban. Karena kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan kepada seseorang. Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak dan dapat juga tidak mengacu kepada hak. Maka tanggng jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya. 
Pembagian kewajiban bermacam-macam dan berbeda-beda. Setiap keadaan hidup menentukan kewajiban tertentu. Status dan peranan menentukan kewajiban seseorang. Kewajiban dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Kewajiban terbatas: Kewajiban ini tanggung jawabnya diberlakukan kepada setiap orang sama, tidak dibeda-bedakan. Contohnya undang-undang larangan membunuh, mencuri, yang disampingnya dapat diadakan hukuman-hukuman. 
2. Kewajiban tidak terbatas: Kewajiban ini tanggung jawabnya diberlakukan kepada semua orang. Tanggung jawab terhadap kewajiban ini nilainya lebih tinggi, sebab dijalankan oleh suara hati, seperti kewajiban dan keadilan.
B. MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB
Menurut sifat dasarnya manusia adalah makhluk bermoral dan juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi, manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, serta angan-angan dalam berbuat atau bertindak. Dalam hal ini manusia tak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik disengaja atau tidak.
a. Tanggung jawab kepada keluarga
Masyarakat kecil ialah keluarga. Keluarga terdiri dari suami-istri , ayah ibu, dan anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab terhadap keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
Contoh:
1) Penyelewengan Dr. Tono(Sukartono) kepada Yah, berarti tidak bertanggung jawab akan kewajibannya sebagai suami. Sebaliknya Tini, istri Tono yang kurang menghargai suaminya, juga merupakan tidak bertanggung jawab sebagai istri. (Belenggu – A. Pane)
2) Perbuatan guru Isa mengambil barang-barang milik sekolah untuk dijual adalah pertanggungjawabannya sebagai kepala rumah tangga, meskipun tanggung jawab itu sebenarnya merupakan perbuatan melanggar hukum, norma susila, dan norma moral. (Jalan Tak Ada Ujung – Mochtar Lubis)
b. Tanggung jawab kepada masyarakat
Satu kenyataan pula, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia merupakan anggota masyarakat. Karena itu, dalam berpikir, bertingkah laku, berbicara, dan sebagainya, manusia terikat oleh masyarakat. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
c. Tanggung jawab kepada bangsa/negara
Satu kenyataan bahwa tiap manusia adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku, ia terikat oleh norma-norma atau ukuran yang dibuat oleh negara. Ia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatannya salah, ia harus bertanggung jawab kepada negara.
d. Tanggung jawab kepada Tuhan
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan, manusia dapat mengembangkan dirinya sendiri dengan sarana-sarana yang ada pada dirinya, yaitu pikiran, perasaan, seluruh anggota tubuhnya, dan alam sekitarnya.
Dalam mengembangkan dirinya, manusia bertingkah laku dan berbuat. Sudah tentu dalam perbuatannya, ia membuat banyak kesalahan baik disengaja maupun tidak. Sebagai hamba Tuhan, ia harus bertanggung jawab atas segala perbuatan yang salah itu. 
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia bersembahyang sesuai dengan perintah Tuhan. Apabila tidak, ia harus mempertanggungjawabkan kelalaiannya di akhirat nanti.
Manusia hidup dalam perjuangan, begitulah firman Tuhan. Tetapi apabila manusia tidak bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya, maka segala akibatnya harus dipikul sendiri. Penderitaan akibat kelalaian adalah tanggung jawabnya. Meskipun menutupi perbuatannya yang salah dengan segala jalan sesuai dengan kondisi dan kemampuannya, misalnya dengan harta, kekuasaan atau kekuatan (ancaman), ia tak dapat lepas dari tanggung jawabnya kepada Tuhan.
C. PENGABDIAN
Pengabdian adalah perbuatan baik berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, antara lain kepada raja, cinta kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan dengan ikhlas. 
Timbulnya pengabdian itu hakikatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila kita bekerja keras dari pagi sampai sore hari di beberapa tempat untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, berarti mengabdi kepada keluarga, karena kasih sayang kita kepada keluarga.
Lain halnya bila keluarga kita membantu teman, yang berada pada kesulitan, mungkin diperlukan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan sampai tuntas. Itu bukan pengabdian, tetapi bantuan saja.
a. Pengabdian kepada keluarga
Pada hakikatnya manusia hidup berkeluarga. Hidup berkeluarga ini didasarkan atas cinta dan kasih sayang. Kasih sayang mengandung pengertian pengabdian dan pengorbanan. Tidak ada kasih sayang tanpa pengabdian. Apabila kasih sayang tidak disertai pengabdian, berarti kasih sayang itu palsu atau semu. 
Pengabdian kepada keluarga dapat berupa pengabdian kepada istri dan anak-anak. Istri kepada suami dan anak-anak, atau anak-anak kepada orang tuanya.
Dalam novel Di bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka diceritakan: karena pengabdian kepada ibu angkatnya, Hamid mau disuruh membujuk Zaenab kekasihnya, agar ia mau menikahi dengan saudara sepupunya, meskipun Hamid sendiri hancur hatinya. Demikian juga Zaenab hancur hatinya, karena Hamid saudara angkatnya yang telah menjadi pujaannya, sampai hati membujuknya agar ia menikahi orang yang tidak dicintainya.
b. Pengabdian kepada masyarakat
Manusia adalah anggota masyarakat. Ia tak dapat hidup tanpa orang lain, karena tiap-tiap orang saling membutuhkan. Bila seorang yang hidup di masyarakat tidak mau memasyarakatkan diri dan selalu mengasingkan diri, maka apabila mempunyai kesuliatan yang luar biasa, ia tidak mendapat bantuan dari masyarakat. Cepat atau lambat, ia akan menyadari dan menyerah kepada masyarakat lingkungannya.
Oleh karena itu, demi masyarakat, anggota masyarakat harus mau mengabdikan diri kepada masyarakat. Ia harus mempunyai rasa tanggung jawab kepada masyarakat. Karena nama baik tempat ia tinggal, membawa nama baiknya pula. Bila remaja masyarakat kampungnya terkenal dengan remaja berandal, suka berkelahi, mengganggu orang, atau merampas hak oranglain, maka ia juga akan merasa malu.
c. Pengabdian kepada negara 
Manusia pada hakikatnya adalah bagian dari suatu bangsa atau warga negara suatu negara. Karena itu, seorang warga akan mencintai bangsa dan negaranya, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pengabdian. Tidak ada cinta tanpa pengabdian. Banyak contoh pengabdian kepada bangsa dan pengabdian dalam kehidupan.
Contoh:
Dalam roman sejarah Tambora karya Untung Sontani, Kawista memimpin bangsanya mengusir Belanda dari Pulau Banda, karena perjanjian antara Belanda dengan rakyat di daerahnya sangat merugikan rakyat. Mula-mula perlawanan itu dilakukan dengan jalan damai, yaitu dengan menculik Clara, kemenakan Van Speult. Sebagai gantinya, Belanda harus meninggalkan Pulau itu. Rupanya siasat itu terdengar oleh Belanda melalui mata-matanya, sehingga terjadi pertempuran hebat. Karena persenjataan Belanda lebih banyak dan lengkap, sedangkan penduduk hanya bersenjatakan golok, tombak dan bamboo runcing, kemenangan akhirnya berada di pihak Belanda. Kawista dengan kawan-kawannya tertangka dan dibuang ke sebuah pulau. 
d. Pengabdian kepada Tuhan
Sebagai ciptaan Tuhan, manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
D. KESADARAN
Kesadaran adalah keinsafan akan suatu perbuatan. Sadar artinya merasa, tahu, atau ingat (kepada yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur) ingat, tahu dan mengerti, misalnya rakyat telah sadar akan politik.
Jadi, kesadaran adalah hati atau pikiran yang telah terbuka atau tentang apa yang telah dikerjakan.
Seperti halnya guru Isa mengambil barang-barang sekolah untuk dijual karena dorongan kebutuhan rumah tangganya. Ia berbuat itu dengan kesadaran bahwa hal tersebut salah, tetapi tetap dilakukannya (Jalan Tak Ada Ujung). 
Kesadaran moral sangat penting diperhatikan, karena pelanggaran moral dapat merusak norma. Oleh sebab itu, kesadaran moral perlu dijaga oleh setiap individu. Hal ini tidak berarti bahwa kesadaran yang lain tidak penting. Semua kesadaran penting, karena ketidaksadaran adalah salah satu hal yang dapat menggoncangkan atau sekurang-kurangnya membuat kepincangan dalam hidup.
Pada umumnya orang sadar akan perbuatannya, tetapi tidak menyadarinya, apakah perbuatan itu melanggar norma sopan santun, norma hokum atau norma moral. Kalau ingin berbuat, maka ia langsung berbuat saja. Orang yang berbuat tanpa kesadaran ini amat sedikit jumlahnya. Hal itu bisa terjadi karena kekeliruan. Tetapi mungkin juga yang berbuat dalam keadaan tidak sadar atau anak kecil. Karena itu orang tersebut dapat bebas dari hukuman. 
E. PENGORBANAN
Pengorbanan berasal dari kata korban, artinya memberikan secara ikhlas, harta, benda, waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin nyawa, demi cintanya atau ikatannya dengan sesuatu atau demi kesetiaan, kebenaran.
Contoh :
1. Adi bekerja keras tanpa memperhitungkan lelah, karena bila tidak demikian kebutuhan rumah tangganya tidak mencukupi. Itu dilakukan demi cintanya kepada keluarganya. Bekerja keras adalah pengorbanan.
2. Budi mengumpulkan di kampungnya untuk memikirkan bagaimana memajukan kampungnya. Usaha itu dikerjakan tanpa mengenal lelah dan putus asa. Karena budi merasa terikat dengan kampung itu, maka ia mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk memajukan kampungnya.
3. Biarawati Maria meninggalkan keduniawian demi mengabdi kepada agama dan Tuhannya. Meninggalkan keduniawian di sini berarti berkorban demi cintanya kepada agama dan Tuhannya. 
Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena ada pengabdian berarti ada pengorbanan. Antara sesama kawan, sulit dikatakan pengabdian, karena pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatnya. Dalam hal ini digunakan kata pengorbanan.
Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.
a. Pengorbanan kepada keluarga
Pada hakikatnya manusia hidup berkeluarga. Dasar hidup berkeluarga ialah kasih sayang. Kasih sayang memerlukan pengorbanan. Tanpa pengorbanan tidak ada kasih atau tidak ada cinta.
1. Siti Nurbaya dengan sangat terpaksa menikah dengan Datuk Maringgih, seorang laki-laki yang sangat dibencinya, demi cintanya kepada ayahnya (dalam Siti Nurbaya).
2. Miranti, janda muda cantik dan beranak dua, berkali-kali menolak bujukan kakaknya agar mau menikah dengan kawan kakaknya, yang juga seorang dokter. Ia mengorbankan dirinya untuk tetap menjanda, demi cintanya kepada dua orang anaknya (dalam Kabut sutera Ungu).
b. Pengorbanan kepada masyarakat
Manusia adalah makhluk sosial, karena tidak dapat hidup sendiri dan saling membutuhkan. Sebagai makhluk sosial, manusia merasa terikat dengan masyarakatnya. Karena itu, demi pengabdiannya kepada masyarakat, ia harus melakukan pengorbanan.
c. Pengorbanan kepada bangsa dan negara
Setiap orang di bumi ini mengakui bahwa manusia merupakan anggota suatu bangsa dan warga suatu negara. Karena inilah setiap orang mempunyai kewajiban, antara lain membela negara. Pembelaan itulah yang disebut pengorbanan.
d. Pengorbanan karena kebenaran
Ada peribahasa berani karena benar, takut karena salah. Demi kebenaran orang tidak takut menghadapi apapun. Perang kemerdekaan itu pada hakikatnya adalah perang untuk membela kebenaran. Menurut kodratnya, manusia mempunyai hak hidup, dan hak kemerdekaan hidup. Oleh karena itu, penjajahan di atas bumi bertentangan dengan kodrat alam. Dalam membela kebenaran ini biasanya banyak korban berjatuhan.
Contoh:
1. Perang antara Rama melawan Rahwana sebenarnya adalah perang antara kebenaran melawan kejahatan, karena Rahwana menculik istri Rama, Sita (dalam Ramayana).
2. Wibisana, menentang perintah kakaknya, Rahwana, karena ia melihat kakaknya berada di pihak yang salah. Karena itu, ia memilih kebenaran dan mengorbankan dirinya sebagai pengkhianat demi kebenaran (dalam Ramayana).
e. Pengorbanan kepada agama
Berkorban kepada agama berarti juga berkorban demi cintanya kepada Allah. Hal ini terjadi karena adanya manusia bukan dengan sendirinya, tetapi karena diciptakan Allah. Karena itu, wajiblah manusia berkorban demi cintanya kepada agama dan juga kepada penciptanya. Agama pada hakikatnya adalah kebenaran, manusia tidak sayang kehilangan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa pun rela dikorbankan.

BAB IX MANUSIA DAN KEGELISAHAN, KETENTRAMAN
A. Pengertian Kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti hati yang tidak tentram, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tenteram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. Manusia yang gelisah selalu dihantui rasa khawatir dan takut.
Kecemasan menurut Sigmund Freud membedakan menjadi tiga macam:
1. Kecemasan kenyataan/objektif:kecemasan yang ditimbulkan dari luar/lingkungan sekitar
2. Kecemasan neurotik/syaraf:timbul dari naluri (dalam)
3. Kecemasan moral
Kegelisahan dibagi menjadi kegelisahan negatif dan positif yang di artikan sebagai berikut :
1. Kegelisahan Negatif 
Kegelisahan yang berlebih-lebihan, atau yang melewati batas, yaitu kegelisahan yang berhenti pada titik merasakan kelemahan, di mana orang yang mengalaminya sama sekali tidak bisa melakukan perbuatan positif untuk mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu kegelisahan dalam ‘menanti-nanti’ sesuatu yang tidak jelas atau tidak ada. 
2. Kegelisahan Positif 
Dasar kehidupan atau sebagai kesadaran yang dapat menjadi semangat dalam memecahkan banyak permasalahan, atau sebagai tanda peringatan, kehati-hatian terhadap bahaya atau hal yang datang secara tiba-tiba dan tak terduga. Ia juga merupakan kekuatan dalam menghadapi kondisi-kondisi baru dan dapat membantu dalam beradaptasi. Singkatnya, ia merupakan faktor penting yang dibutuhkan manusia. 
B. Sebab-sebab Orang Gelisah 
Gelisah terkadang membuat seseorang tidak nyaman. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan orang-orang menjadi gelisah. Diantaranya :
1. Panik
Panik adalah sebuah perasaan dari ketakutan dan kecemasan. Panik merupakan ketakutan dan kecemasan yang terjadi secara mendadak dari sebuah peristiwa yang terjadi. Rasa panik dapat menyebabkan seseorang menjadi gelisah. contoh: mendapat kabar buruk yang belum pasti kebenaran nya
2. Kesulitan ekonomi
Kesulitan ekonomi merupakan kesulitan yang dialami ketika seseorang merasakan kondisi sulit dalam kehidupan ekonomi. Seperti hal nya tidak mempunyai uang atau kelangkaan dalam suatu barang pemuas kebutuhan. Dengan adanya kesulitan ekonomi, ada beberapa orang yang merasa terdesak dan gelisah untuk berfikir bagaimana cara untuk menyelesaikan kesulitan ekonomi tersebut.
3. Persiapan yang tidak matang
Segala sesuatu kegiatan yang dilakukan, harus dengan persiapan yang matang. Apabila kita akan melakukan sesuatu tetapi belum ada persiapan yang matang, maka dapat terjadi kegelisahan. Contoh nya seperti dalam menghadapi ujian, tetapi belum ada persiapan yang matang dalam menjalani ujian tersebut, maka kemungkinan perasaan gelisah akan timbul.
4. Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata terasing, kata ini berasal dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang. Sehingga kata terasing berarti tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain atau terpencil. Sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain.
5. Kesepian
Kesepian berasal dari kata sepi yang berarti sunyi, tidak berteman. Lama rasa sepi itu bergantung kepada mental orang dan penyebabnya. Kesepian itu akibat dari keterasingan. Keterasingan dapat disebabkan sikap buruk seperti sombong, angkuh, keras kepala, yang membuat manusia diasingkan oleh kehidupan sosialnya.
6. Ketidakpastian
Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tanpa arah yang jelas atau tanpa usul-usul yang jelas. Contoh: naik tidak nya jabatan di suatu pekerjaan.
C. Usaha-usaha Mengatasi Kegelisahan
Ada beberapa usaha–usaha yang perlu kita ketahui untuk mengatasi kegelisahan, diantara nya :
1. Bersikap tenang
Tenang merupakan sikap mengontrol perasaan menjadi rileks. Pada saat seseorang merasa gelisah, sikap tenang dapat membantu menghilangkan atau mengurangi kegelisahan.
2. Intropeksi diri 
Intropeksi diri sangat diperlukan untuk membantu menghilangkan perasaan gelisah. Dengan adanya intropeksi diri seseorang akan mulai berfikir apa penyebab kegelisahan nya dan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan nya tanpa harus merasa gelisah.
3. Bercerita kepada seseorang
Dengan bercerita kepada seseorang, permasalahan yang sedang dialami dapat mendapatkankan pendapat ataupun saran. Jadi kemungkinan kegelisahan tidak akan bertambah dengan adanya pendapat atau saran yang diterima.
D. Perbedaan antara Tanggung Jawab dan Pengabdian
Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Bertanggung jawab menurut kamus tersebut adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab, dan menanggung segala akibatnya.
Pengabdian berasal dari kata abdi yang berarti hamba atau bawahan.Oleh karena itu, pengabdian diartikan sebagai perihal mengabdi atau menghamba diri. Dalam pola masyarakat lama yang masih mengenal abdi atau hamba, golongan bawah dituntut suatu tanggung jawab atas segala pekerjaan yang diperintahkan atau ditugaskan kepadanya. Dengan demikian, dalam pengabdian sekaligus dituntut adanya kesetiaan atau loyalitas kepada atasannya. Dalam Korps Pegawai Negeri (KOPRI) dikenal semboyan, bahwa mereka adalah abdi negara.

BAB X MANUSIA DAN HARAPAN
A. PENGERTIAN HARAPAN
Harapan berasal dari kata harap, artinya keinginan supaya sesuatu terjadi. Yang mempunyai harapan atau keinginan itu hati. Putus harapan berarti putus asa.
Contoh:
1. Budi seorang mahasiswa Universitas Terbuka, ia belajar rajin dengan harapan di dalam ujian semester memperoleh nilai A.
2. Mang Udin seorang petani yang rajin. Sejak mulai menggarap sawah ia mempunyai harapan agar panennya lebih baik dan hasilnya selain cukup untuk makan juga dapat digunakan untuk memperbaiki rumahnya. Ia yakin harapan itu menjadi kenyataan, karena itu sawahnya digarap sebaik mungkin, pengairan cukup, pupuk cukup sesuai dengan anjuran pasca usaha.
Dari kedua contoh itu terlihat, apa yang diharapkan Budi dan Mang Udin ialah terjadinya buah keinginan, karena itu mereka bekerja keras. Budi belajar tanpa mengenal waktu, sedangkan Mang Udin bekerja tak mengenal lelah. Semua dengan satu keyakinan bahwa apa yang diharapkan akan terwujud. Untuk mewujudkan harapan harus disertai dengan usaha. Meskipun sudah berusaha keras, kadang-kadang harapan itu belum tentu terwujud. Apakah Budi pasti mendapat nilai A? Belum tentu. Apakah Mang Udin memperoleh panen yang sesuai dengan harapannya? Juga belum pasti. Tuhanlah yang menentukan. Manusia sekadar berusaha.
Harapan artinya keinginan yang belum terwujud. Setiap orang mempunyai harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya. Manusia yang tidak mempunyai harapan berarti tak dapat diharapkan.
Dalam diri manusia ada dorongan, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu ialah menangis, tertawa, berpikir, berkata, bercinta, mempunyai keturunan, dan sebagainya.
Kebutuhan hidup adalah kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani ialah pangan, sandang, dan papan, sedangkan kebutuhan rohani meliputi kebahagiaan, kesejahteraan, kepuasan hiburan, dan sebagainya.
Dalam mencukupi kebutuhan, baik kebutuhan kodrat maupun kebutuhan hidup, manusia memerlukan bantuan orang lain.
Berdasarkan dorongan kebutuhan kodrat dan kebutuhan hidup, maka setiap orang mengharapkan agar kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Sehubungan dengan kebutuhan manusia, Abraham Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam, yang merupakan lima harapan manusia, ialah:
1. Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
2. Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
3. Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (beloving and love).
4. Harapan memperoleh status atau untuk diterima atau diakui lingkungan.
5. Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self actualization).
B. KEPERCAYAAN
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran.
Ada ucapan yang sering kita dengar:
1. Ia tidak percaya pada diri sendiri.
2. Saya tidak percaya ia berbuat seperti itu atau berita itu kurang dapat dipercaya kebenarannya.
3. Bagaimanapun juga kita harus percaya kepada pemerintah.
4. Kita harus percaya akan nasihat-nasihat Kiai, karena nasihat-nasihat itu diambil dari ajaran Al-Quran dan sebagainya.
Dengan contoh berbagai kalimat diatas jelaslah bahwa dasar kepercayaan itu adalah kebenaran.
Ada jenis pengetahuan yang dimiliki seseorang, bukan merupakan hasil penyelidikan sendiri, melainkan diterima dari orang lain. Kebenaran pengetahuan yang didasarkan atas orang lain itu disebabkan karena orang lain itu dapat dipercaya. Yang diselidiki bukan lagi masalah orang yang diberitahukan itu dapat dipercaya atau tidak. Pengetahuan yang diterima dari orang lain atas kewibawaan yang memberitahu mengenai pengetahuan makin besar kepercayaannya.
Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap diwahyukan, artinya diberitahukan oleh Tuhan langsung atau tidak langsung kepada manusia. Kewibawaan pemberi kebenaran itu ada yang melebihi besarnya. Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Hak berpikir bebas, hak atas keyakinan sendiri menimbulkan hak beragama menurut keyakinan.
Dalam hal beragama tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu. Dasarnya ialah keyakinan masing-masing. Misalnya Adi beragama Islam, maka yakinlah bahwa agama itu benar. Kalau Adi tidak yakin bahwa agama itu benar, maka itu bukan agama Adi. Sebaliknya orang beragama lain, harus dianggap yakin terhadap kebenaran agama itu. Keyakinan itulah yang harus dihormati, hak atas keyakinan pribadi merupakan dasar dan penghargaan diri dari semua orang seagama dengan dia, disebut toleransi.
Apakah kebenaran itu?
Sebelum kita melanjutkan pembicaraan mengenai bentuk-bentuk pernyataan kepercayaan, lebih baik kita bicarakan dahulu arti kebenaran.
Kebenaran, menurut Poedjawiyatna dalam bukunya Etika Filsafat Tingkah Laku, merupakan cita-cita orang yang tahu. Sudah tentu dalam hal ini kebenaran tersebut adalah kebenaran logis. Bagaimana sulitnya mencapai kebenaran logis itu, tetapi benar-benar diusahakan orang. Tidak ada seorang pun yang suka kekeliruan. Ini nyata dalam usaha ilmu untuk menapai kebenaran. Orang tidak memperhitungkan susah payah dan biaya, tujuanya ialah kebenarannya.
Manusia mempunyai bahasa sebagai alat komunikasi dalam bergaul. Pada manusia yang utama ialah bahasa (lisan atau bergaul) yang terdiri dari kata-kata, yang digabungkan dalam bentuk kalimat. Dalam kalimat itu dicetuskan suatu keputusan, yang merupakan hasil tahu.
Dapat pula dikatakan, bahwa orang yang tahu itu sebenarnya menyatakan sesuatu terhadap sesuatu. Sebab kata-kata itu masing-masing menunjuk pengertian (hasil mengerti). Oleh karena tahu akan sesuatu terhadap sesuatu, misalnya, tentang segitiga dan tahu pula tentang pengertian segitiga sudut, mungkin orang menghubungkan segitiga sudut. Ada pula yang mengatakan, bahwa tahu manusia dalam keputusannyaialah tindakan mental manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu. Kalau hubungan itu terdapat dalam realitas, maka benarlah putusannya, jika tidak maka jika putusan itu salah.
Rumus yang kedua tentang tahu dan putusannya lebih tepat, karena putusan merupakan hasil tahu itu memang harus dikatakan, diucapkan dengan kata, baik secara lisan atau tertulis atau dengan perantara apapun juga. Mungkin putusan itu hanya terpendam dalam hati saja (seperti halnya, bahwa budi dan kehendak ialah dasar kemanusiaan. Itulah sebabnya, manusia susila selalu memilih tindakan yang menurut keyakinannya adalah baik dan benar. Atau manusia yang berkepribadian etis dalam tindakannya selalu memilih yang baik atau benar sesuai denganpenerangan budinya). Kalau putusan itu dikatakan, maka pernyataan itu haruslah benar karena sebagai alat kata komunikasi, putusan ini menunjuk maksud. Maka, pengutaraan dikatakan benar jika kalimat yang merupakan putusan sesuai dengan maksud yang mengatakan.
Persesuaian antara putusan dengan keyakinan disebut kebenaran etis. Dalam bidang logika, kebenaran ialah persesuaian antara yang mengetahui dan objek yang diketahui. (Cita-cita manusia ialah kebenaran logis yang benar). Kebenaran logis disebut juga kebenaran objektif, sedangkan kebenaran etis disebut juga kebenaran subjektif.
Jika tidak ada persesuaian antara putusan dan ojkenya yang diketahui, maka ada dua kemungkinan:
1. Orang yang mengutarakan putusan (mengatakan) itu keliru.
2. Orang yang mengutarakan itu sengaja mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan realita dan tidak sesuai dengan keyakinannya. Tindakan itu disebut bohong atau dusta.
Kekeliruan bukan objek etika karena kekeliruan tidak dianggap buruk. Lain halnya dengan berdusta atau bohong yang merupakan tindakan etis yang buruk. Jelas kebenaran itu timbul dari manusia.
Berbagai kepercayaan dan usaha meningkatkannya
Dasar kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia. Karena itu, sesuai dengan contoh-contoh di depan, maka kepercayaan dapat dibedakan atas:
1. Kepercayaan pada diri sendiri
Kepercayaan pada diri sendiri perlu ditanamnkan pada setiap pribadi manusia. Percaya pada diri sendiri hakikatnya percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Percaya pada diri sendiri, adalah menganggap diri tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang diserahkan atau dipercayakan kepadanya.
Contoh:
a. Tigor, dalam drama TVRI yang berjudul “Tigor”, tidak takut kepada Jaya Krupuk. Ia yakin bahwa dia tidak bersalah. Ia percaya pada dirinya sendiri. Ia hanya takut kepada Tuhan.
b. Wibisana, adik Ramayana berkhianat kpada kakaknya dan bergabung dengan musuh kakaknya yaitu Rama karena ia percaya bahwa dirinya benar. Ia memihak kepada kebenaran dan kakaknya dianggap dipihak yang salah.
2. Kepercayaan kepada orang lain
Percaya kepada orang lain dapat berupa percaya kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja. Kepercayaan ini sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenaran. Ada pepatah mengatakan, “Orang itu dipercaya karena ucapannya”. Misalnya, orang yang berjanji sesuatu itu dipenuhi, meskipun janji itu tidak terdengar orang lain, apalagi membuat janji kepada orang lain. Banyak contoh dalam kehidupan yang meskipun berat tetap dilaksanakan.
Contoh:
a. Nyai Ratu Kalimayat bertapa telanjang hanya berkainkan rambut (tapa wuda sinjang rikma), karena menginginkan kematian Pangeran Jipang, Arya Panangsang. Ia kan berhenti bertapa, bila Panangsang sudah terbunuh. Akhirnya Panangsang dapat dibunuh oleh Sutawijaya (Putra angkat Sultan Pajang).
b. Dewi Drupadi mengurai rambutnya, ia tidak akan bergelung kalau tidak keramas dengan darah Dursasana (Kurawa). Janji itu akhirnya juga terpenuhi.
3. Kepercayaan kepada Pemerintah
Berdasarkan pandangan teokratis menurut buku Etika, Filsafat Tingkah Laku karya Prof. I. R. Poedjawiyatna, negara berasal dari Tuhan. Tuhan lahyang langsung memerintah dan memimpin manusia, karena Tuhan adalah pemilik kedaulatan sejati. Semua pengemban kawibawaan, terutama pengemban tertinggi, yaitu raja, langsung dikarunia kewibawaan oleh Tuhan.
Pandangan demokratis mengatakan bahwa kedaulatan adalah dari rakyat, kewajiban pun milik rakyat. Rakyat adalah warga negara, rakyat itu menjelma pada negara, satu-satunya realitas adalah negara. Manusia sebagai seorang (individu) tak berarti apa-apa. Ia mempunyai arti hanya dalam masyarakat. Negara sebagai keutuhan (totalitas) yang ada, kedaulatan mutlak pada negara (negara totaliter). Satu-satunya yang mempunyai hak adalah negara, sedangkan perorangan tidak memiliki hak, ia hanya mempunyai kewajiban (negara diktator).
Pandangan demokrasi yang lain tidak menyamakan rakyat dengan negara, tetapi rakyat menjadi sumber kedaulatan sepenuhnya, sumber kedaulatan dan segala hak (J. J. Rosseau). Apa yang menjadi kehendak rakyat adalah hak. Itulah yang disebut kedaulatan rakyat yang mutlak (Republik).
4. Kepercayaan kepada Tuhan
Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa amat penting, karena keberadaan manusia bukan dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaan amat penting, karena merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Tuhan tidak dapat menolong umat-Nya, apabila umat-Nya tidak mempunyai kepercayaan kepada-Nya, sebab tidak ada tali penghubung yang mengalirkan daya kekuatannya. Oleh karena itu, jika ingin mendapatkan pertolongan dari-Nya, manusia harus percaya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah yang selalu menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan akan adanya Zat Yang Maha Tinggi yang menciptakan alam semesta dan seisinya, merupakan konsekuensi tiap-tiap umat beragama/kepercayaan dalam melakukan pemujaan kepada Zat tersebut. Pengukuhan iman (kepercayaan), bahwa adanya Zat itu merupakan kebenaran mutlak. Perwujudannya terdapat dalam ikrar lisan yang dibenarkan dengan hati dan dilaksanakan dengan perbuatan (affirmation). Antara sesama penganut kepercayaan kepada Tuhan terjalin suatu batin yang kuat, sehingga tumbuh suatu persaudaraan umat seagama/sekepercayaan.
Berlandaskan kepercayaan tersebut tiap-tiap individu meyakini bahwa tujuan hidup kebahagiaan yang sempurna tidak terdapat di dunia ini, tetapi di akhirat. Keyakinan ini membawa akibat, bahwa hidup di dunia merupakan satu kesatuan dengan akhirat, dan manusia berbuat sesuai dengan keyakinan tersebut (assurance).
Kepercayaan meyakinkan bahwa kebaikan dalam tingkah laku membawa kebaikan pula (pahala) dan akan mengalahkan kejahatan. Dengan demikian, bagi yang berbuat baik (tindakan moral) bisa berharap mendapat kebaikan dalam kesempatan lain.
Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meningkatkan kepercayaannya kepada Tuhan. Usaha itu bergantung pada pribadi, kondisi, situasi, dan lingkungan.
Usaha itu antara lain:
a. Meningkatkan ketaqwaan dengan jalan meningkatkan ibadah.
b. Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat (ambek parakartha).
c. Meningkatkan kecintaan kepada sesama manusia dengan jalan suka menolong, dermawan, dan sebagainya.
d. Mengurangi nafsu mengumpulkan harta yang berlebihan.
e. Menekan perasaan negatif seperti iri, dengki, fitnah, dan sebagainya.
C. MANUSIA DAN HARAPAN
Kita ingat ibarat demikian, Manusia tanpa cita-cita ibarat mati sebelum ajal. Artinya orang yang tidak mempunyai cita-cita atau harapan tak ubahnya seperti orang mati. Jelasnya, setiap orang mempunyai cita-cita atau harapan. Harapan bersifat manusiawi dan dimiliki oleh setiap orang.
Bila kita tinjau dari wujudnya dapat dikatakan bahwa harapan itu tidak terhingga. Namun, bila dilihat dari tujuannya hanya ada satu ialah hidup bahagia, di dunia dan di akhirat.
Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu diupayakan hal berikut:
1. Harapan yang baik.
2. Bagaimana mencapai harapan itu.
3. Bagaimana bila harapan itu tak tercapai.
Sering kita saksikan orang tua yang terlalu mengharapkan anak-anaknya agar menjadi dokter, insinyur, atau mendapatkan jabatan dan pangkat yang tinggi. Menurut dugaan mereka semua, pangkat dan jabatan yang tinggi itu mampu memberikan kebahagiaan. Padahal belum tentu demikian. Justru banyak orang yang berpangkat, kaya, terpandang, merasakan gundah dan pikirannya kusut. Sebaliknya, ada orang yang hidupnya sederhana, kalau tidak boleh dikatakan kekurangan, selalu merasa bahagia, tenang, damai. Mengapa demikian?
Bila kita ingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja, namun juga di akhirat, bahkan kehidupan disana lebih abadi, maka sudah selayaknya “harapan” untuk hidup bahagia di dua tempat itu kita niati.
Orang yang hanya mengharapkan hidup kaya, cenderung mudah terseret ke jalan kurang baik, mereka kurang memperhitungkan aturan permainan dalam mendapatkan kekayaan. Tidak jarang, mereka menghalalkan segala cara. Pandangan hidup seperti itu mulai dilaksanakan sejak mereka duduk di bangku pendidikan, dilanjutkan saat mencari pekerjaan atau jabatan, dan disempurnakan saat mereka menduduki suatu jabatan.
Akhirnya bila sudah kaya, mereka hanya memuaskan kehendaknya, memuaskan hawa nafsunya. Karena dilandasi hawa nafsu, mereka selamanya tidak akan merasa puas, dan akhirnya tidak akan merasakan bahagia. Tidak aneh bila mereka melakukan hal-hal yang tidak terpuji, asal kehendaknya terpenuhi.
Seharusnya, manusia menyadari sepenuhnya bahwa apa yang ada pada dirinya hanyalah titipan Tuhan, yang penggunaannya pun harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak atau sedikitnya tidak perlu risau sehingga ia akan ikhlas mengeluarkannya, untuk kepentingan di jalan-Nya seperti membayar zakat, berkorban, membantu pembangunan masjid, memelihara anak yatim, dan sebagainya.
Seandainya harapan itu belum berhasil, ia akan tetap bersabar tanpa mengurangi usahanya. Ia yakin bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasibnya, bila ia sendiri tak mau berusaha ke arah perubahan itu. Tak ada kamus berputus asa, sebab putus asa adalah perbuatan orang-orang yang ingkar kepada Tuhan. Bila harapannya berhasil ia tetap bersabar dan bertawakal.
Berharap agar hari esok lebih baik dari pada hari ini memang hak dan kewajiban kita. Namun, kita harus selalu sadar bahwa harapan tidak selamanya menjadi kenyataan. yang penting kita selalu ingat pesan Nabi Muhammad SAW. “Berusahalah untuk urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan berusahalah untuk urusan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”.
D. HARAPAN TERAKHIR
Menurut Aristoteles, hidup dan kehidupan ini berasal dari generatio spontanea, artinya kehidupan itu terjadi dengan sendirinya. Ia belum sampai pada pemikiran bahwa segala sesuatu yang ada di bumi dan jagad raya berasal dari Tuhan. Dalam hidup di dunia, manusia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang beragam, apabila sifatnya positif, senanglah hidupnya, tetapi apabila negatif, susahlah yang terjadi. Cinta kasih, keindahan, keadilan, tanggung jawab, dan harapan cenderung bersifat positif, tetapi penderitaan dan kegelisahan cenderung bersifat negatif. Untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup, manusia belajar dari manusia lain, baik yang bersifat informal maupun formal agar kehidupannya dapat lebih sejahtera.
Manusia memiliki kebutuhan jasmani, diperoleh dengan mencukupi kebutuhan hidup yang bersifat kebendaan, sedangkan kebutuhan rohaninya dicukupi dengan hal-hal yang sifatnya rohani, khususnya keagamaan. Ada yang dalam pandangan hidupnya hanya ingin memuaskan kehidupan duniawi sehingga ia memuaskan diri pada semua kenikmatan jasmaninya. Ada pula yang dalam pandangan hidupnya justru sebaliknya, ia menekan kenikmatan jasmaninya dan memusatkan diri pada yang bersifat rohaniah, seperti yang dilakukan oleh biarawan dan biksu. Agama Islam mengajarkan, manusia tidak hanya mengejar kebutuhan yang bersifat duniawi saja, tetapi juga bersifat ukhrowi. Dengan demikian, orang harus memikirkan soal-soal yang sifatnya dunia-akhirat.
Semakin tinggi kesadaran kehidupan beragama semakin yakinlah mereka bahwa semua manusia akhirnya akan mati. Dunia yang serba gemerlap akan ditinggalkan dan akan hidup di alam akhirat yang abadi.
Pada bangsa-bangsa primitif diyakini bahwa kehidupan sesudah di dunia masih memerlukan kebutuhan di dunia. Karena itu, jenazah dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan, seperti piring, gelas, perhiasan, dan uang sebagai bekal kubur. Pada manusia beragama, bekal yang diberikan hanya berupa doa-doa. Dalam ajaran Islam, jenazah hanya dibungkus dengan kain kafan dan diletakkan langsung di tanah agar secepatnya kembali pada tanah, inna lillahi wainna ilaihi raji’un, asalnya dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Sedangkan, pada kepercayaan primitif diyakini selama jenazah masih utuh, kehidupan seperti di dunia akan tetap berlamgsung sehingga mereka melakukan usaha untuk melestarikan jenazah selama mungkin.
Bagi orang atheis dengan pandangan materialistis, mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Mati bagi mereka bukan karena rohnya kembali kepada Tuhan, tetapi karena jantungnya berhenti berdenyut. Sebaliknya, bagi yang theis, percaya kepada Tuhan, meyakini bahwa seseorang yang meninggal akan kembali kepada asalnya, yaitu Tuhan. Doa yang diberikan adalah semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Mereka yakin, bahwa kebahagiaan yang diharapkan adalah kebahagiaan akhirat sehingga mereka makin tua dan sadar bahwa hidupnya tidak lama lagi mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang merupakan pintu memasuki dunia akhirat. Karena kematian merupakan hal yang pasti datangnya, maka kematian jangan dirapati, cukup sekadar ditangisi.
Di akhirat, roh orang yang meninggal dibedakan atas empat golongan, yaitu:
1. Golongan atau kumpulan yang musnah akan mengalami kesengsaraan yang kekal dalam neraka, akibat dosa-dosa yang dilakukan selama hidup di dunia.
2. Kumpulan yang disiksa, menderita di api neraka, tetapi kemudian akan dipindahkan ke surga. Mereka juga berbuat dosa di dunia, tetapi banyak juga berbuat kebaikan sehingga perlu mengalami pencucian di api neraka.
3. Kumpulan anak-anak kafir, orang-orang gila dan mereka yang tidak sadar akan agama, mereka ini tempatnya bukan di neraka dan bukan di surga, melainkan diantaranya yang disebut A’raf.
4. Kumpulan orang yang berhasil langsung masuk surga tanpa melalui neraka lebih dahulu, mereka adalah orang-orang yang saleh.
Kebahagiaan di surga menurut Al-Ghazali ada dua tahap, yaitu tahap rendah dan tahap tinggi. Tahap rendah berupa kenikmatan dunia dalam makanan, minuman, layanan bidadari, pakaian cantik, istana bagus, dan sebagainya yang sifatnya seperti apa yang ada di dunia. Tahap tinggi berupa pendekatan kepada Tuhan, dapat memandang wajah-Nya Yang Maha Agung dengan tidak puas-puasnya. Nikmatnya sama dengan kekhusyukan seseorang di dunia apabila melakukan zikir atau melakukan shalat.
Gambaran tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang dituliskan oleh Dante Alighieri dalam karyanya yang masyhur Devina Comedia. Karya sastra itu terdiri dari tiga canthiche, yaitu L’Infero yang menggambarkan neraka, II Purgarito tentang pencucian, dan II Paradiso tentang surga. Seseorang yang meninggal akan melalui ketiga tahapan tersebut, berapa lama seseorang di neraka tergantung pada perbuatan yang dilakukan di dunia, setelah dianggap bersih melalui api pencucian, barulah seseorang masuk surga. Kehidupan di surga abadi sifatnya, kebahagiaan yang diperoleh seseorang merupakan kelanjutan tanpa kesudahan, kegembiraan tanpa kesedihan, pengetahuan tanpa kejahilan,dan kecukupan yang sudah tidak diperlukan apa-apa untuk mencapai kepuasan yang sempurna.
Dengan pengetahuan dan pengertian agama tentang kehidupan abadi setelah orang meninggal, manusia menjalankan ibadahnya. Ia menjalankan printah-perintah Tuhan melalui agama, dan menjauhkan diri dari larangan-larangan yang diberikan-Nya. Manusia menjalankan hal itu karena sadar sebagai makhluk kecil yang tidak akan berdaya terhadap kekuasaan Tuhan. Kehidupan dunia yang sifatnya sementara dikalahkannya demi kehidupan abadi di akhirat karena tahu bagaimana beratnya siksaan di neraka dan bagaimana bahagianya di surga. Kebaikan di surga yang abadi inilah yang merupakan harapan terakhir manusia.

Sumber Referensi:
Mustofa, Ahmad. 1999. Ilmu Budaya Dasar. Surakarta: Pustaka Setia
Pujowiyatno. Etika, Filsafat Tingkah Laku. PT. Bina Aksara. Jakarta, 1982.
Suwondo, Bambang, sejarah seni Rupa Indonesia, proyek penelitian dan pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
http://almanarrahman.blogspot.com/2016/06/makalah-manusia-dan-tanggung-jawab-ilmu.html
https://moondoggiesmusic.com/contoh-daftar-pustaka/
http://mi.scribd.com/doc/3039466/Manusaia-Kegelisahan-Dan-Harapan
http://ilovemygoogle.wordpress.com/2012/06/13/tugas-softskill-ilmu-budaya-dasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar